Jumat, 18 November 2011

Syok Hipovolemik

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Syok merupakan penurunan mendadak tekanan darah yang cukap berat sehingga dapat menimbulkan kematian. Tekanan darah adalah tekanan yang di timbulkan oleh jantung ketika memompa darah lewat pembuluh-pembuluh darah. Dalam pengertian lain syok adalah suatu keadaan serius yang terjadi jika sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) tidak mampu mengalirkan darah ke seluruh tubuh dalam jumlah yang memadai; syok biasanya berhubungan dengan tekanan darah rendah dan kematian sel maupun jaringan.
Syok terjadi akibat berbagai keadaan yang menyebabkan berkurangnya aliran darah, termasuk kelainan jantung (misalnya serangan jantung atau gagal jantung), volume darah yang rendah (akibat perdarahan hebat atau dehidrasi) atau perubahan pada pembuluh darah (misalnya karena reaksi alergi atau infeksi).
Syok digolongkan ke dalam beberapa kelompok:
1. Syok kardiogenik (berhubungan dengan kelainan jantung)
2. Syok hipovolemik ( akibat penurunan volume darah)
3. Syok anafilaktik (akibat reaksi alergi)
4. Syok septik (berhubungan dengan infeksi)
5. Syok neurogenik (akibat kerusakan pada sistem saraf).
Dalam makalah ini akan dibahas secara mendetail mengenai syok hipovolemik dimulai dari definisi, penyebab, patofisiologi, fase-fase syok dan penatalaksanaan.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Asuhan Keperawatan Kritis.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui definisi dari syok hipovolemik.
b. Untuk mengetahui penyebab dari syok hipovolemik.
c. Untuk mengetahui patofisiologi dari syok hipovolemik
d. Untuk mengetahui fase-fase dari syok hipovolemik.
e. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari syok hipovolemik.

C. MANFAAT PENULISAN
1. Manfaat teoritis
Dengan adanya makalah yang berjudul “Konsep Asuhan Keperawatan Kritis Yaitu Mengenai Syok Hipovolemik” diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi para pembaca.
2. Manfaat praktik
a. Bagi Penyusun
Manfaat penyusunan makalah ini adalah sebagai proses pembelajaran dan penambah wawasan tentang Konsep Asuhan Keperawatan Kritis Yaitu Mengenai Syok Hipovolemik yang nantinya dapat diterapkan sebagai dasar untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien di RS.
b. Bagi Perawat
Manfaat penulisan makalah ini bagi perawat adalah sebagai dasar teori dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien.
c. Bagi Institusi Pendidikan
Manfaat penulisan makalah ini bagi institusi pendidikan adalah sebagai dasar teori dalam pemberian asuhan keperawatan bagi seorang mahasiswa yang nantinya akan diterapkan di lapangan.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Syok Hipovolemik merupakan suatu keadaan dimana volume cairan tidak adekuat di dalam pembuluh darah. (Setiawan, ). Dan menurut Prof. Dr. H. Tabrani, syok hipovolemik disebut juga dengan shock preload yang ditandai dengan menurunnya volume intra vaskuler baik karena perdarahan maupun karena hilangnya cairan tubuh.
Defnisi Syok hipovolemik merupakan salah satu jenis syok yang disebabkan oleh hilangnya darah, plasma, atau cairan interstitiel dalam jumlah yang besar.

B. JENIS-JENIS
1. Syok Hemoragik.
Shock hemoragik adalah shock yang terjadi akibat perdarahan dalam jumlah yang besar.
2. Syok Hipovolemik karena kehilangan cairan tubuh.
Shock hipovolemik yang paling sering terjadi adalah shock hemoragik, akan tetapi kehilangan cairan tubuh dalam jumlah banyak, antara lain di sebabkan oleh muntaber, juga dapat menimbulkan shock hipovolemik.

C. PENYEBAB/ ETIOLOGI
Secara umum syok hipovolemik disebabkan oleh:
1. Hilangnya cairan ekstraseluler
Terutama disebabkan oleh muntaber yang disebabkan oleh kolera, oleh obstruksi intestinal atau ileus dimana cairan dalam jumlah yang besar keluar dari usus menjadi cairan ekstraseluler yang menyebabkan terjadinya penurunan volume darah yang diikuti oleh hilangnya natrium.
2. Kehilangan cairan internal
Disebabkan oleh trauma tumpul dan mekanismenya belum diketahui.
3. Berbagai penyakit antara lain, peritonitis, pankreastitis dan luka bakar.
1. Pada peritonitis sebab shock adalah hilangnya cairan ekstraseluler dan sepsis. Terjadinya shock banyak berhubungan dengan aktivitas RES begitu sel RES lumpuh maka shock pun terjadi.
2. Pada pankraetitis ditandai dengan hipotensi, nyeri dan hilangnya cairan.
3. Pada luka bakar yang memenuhi 50% tubuh, setengah cairan dari ekstraseluler akan hilang.
Sedangkan secara khusus, menurut jenisnya penyebabnya yaitu :
1. Syok Hemoragik
Secara penyebab perdarahan yang sering terjadi dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Lokasi Etiologi Riwayat Penyakit/ Pemeriksaan Diagnosa
Intra toraks

Fraktur iga

Kerusakan paru

Tamponade Jantung

Aneurisma aorta Trauma dada diikuti dengan nyeri dan distress pernafasan
Trauma toraks atau operasi dengan ARDS
Penetrasi luka tusuk pada dada atau operasi

Arteriosklerosis, trauma, syndrome marfan Radiografi, cairan pleura, dan fungsi pleura

Radiografi, cairan pleura dan fungsi pleura
Radiografi, bentuk jantung bontot (Water bottle )
Tekanan arteri menurun CVP menaik
Perikardiocentesis

Radiografi, angiogram, hilangnya nadi

Intra peritoneal
Ruptur limpa atau hati
Ruptur kehamilan ektopik
Stangnulasi dan infark khusus
Trauma abdomen
Nyeri abdomen terutama nafas
Menstruasi berhenti
Sinkope dengan shock
Nyeri perut sampai ke punggung

Obstruksi
Nyeri perut dengan menyebar ke punggung
Fraktur iga
Parasentesis-abdomen
Hematokrit
Radiografi fraktur iga
Parasentesis-abdomen
Hematokrit turun
Darah segar pada feses
BNO dilatasi usus dengan permukaan cairan
Retroperitoneal Pankreatitis dengan perdarahan


Rupture aorta
Nyeri abdomen dengan muntah dan shock
Nyeri sesudah makan
Ekimosis
Nyeri abdomen dengan sinkope dan shock
Ulsasi pada massa abdomen
Ekimosis Serum amylase naik dilatasi urin menaik
Serum kalsium menurun
Hemokonsentrasi darah
BNO tampak kalsifikasi aneurisme
Pulasasi aorta femoral menurun

Musculoskeletal Fraktur dengan hematoma Trauma, pembengkakan jaringan Radiografi fraktur

2. Syok Hipovolemik karena kehilangan cairan tubuh
Terjadinya kehilangan cairan dapat di bagi atas cairan eksternal dan internal. Kehilangan cairan eksternal terutama terjadi pada gastroenteritis, walaupun demikian kehilangan cairan eksternal ini juga dapat timbul dari sengatan matahari, poli uria, dan luka bakar. Sedangkan kehilangan cairan internal di sebabkan oleh sejumlah cairan yang berkumpul pada ruangan peritoneal dan pleura. Kehilangan cairan eksternal ini juga di sertai dengan kehilangan elektrolit. Sebab yang terbanyak adalah infeksi kolera.


D. PATOFISIOLOGI
Shock hipovolemik bisa terjadi karena 1) hilangnya cairan misalnya pada pasien yang mengalami muntaber karena kolera sehingga menyebabkan obstruksi intestinal/ ileus dan mengakibatkan cairan ekstraseluler keluar yang berakibat pada menurunnya volume darah dan hilangnya natrium. 2) trauma tumpul, misalnya pada kepala yang menyebabkanperdarahan hebat atau terjadi kehilangan cairan internal (contoh cairan serebral). 3) Berbagai penyakit antara lain, peritonitis, pankreastitis dan luka bakar.
1. Pada peritonitis sebab shock adalah hilangnya cairan ekstraseluler dan sepsis. Terjadinya shock banyak berhubungan dengan aktivitas RES begitu sel RES lumpuh maka shock pun terjadi.
2. Pada pankraetitis ditandai dengan hipotensi, nyeri dan hilangnya cairan.
3. Pada luka bakar yang memenuhi 50% tubuh, setengah cairan dari ekstraseluler akan hilang.
Penurunan curah jantung disebabkan oleh penurunan volume preload walaupun terdapat kompensasi peninggian resistansi vaskuler, vasokonstriksi dan takikardia. Tekanan darah masih dapat dipertahankan walaupun volume darah berurang 20-25%. Pada permulaannny keadaan ventrikuler filling presure, CVP dan PAOP rendah, akan tetapi dalam keadaan yang ekstrim dapat terjadi bradikardia. Pada keadaan hipovelemik yang berat juga terjadi iskemi miokard, bahkan dapat terjadi infark. Penurunan volume intra vaskuler ini menyebabkna penurunan volume intra ventrikuler kiri pada akhir diastole. Yang akibatnya juga menyebabkan berkurangny kontraktilitas jantung dan juga menyebabkan menurunnya curah jantung. Keadaan ini juga menyebabkan terjadinya mekanisme kompensasi dari pembuluh darah dimana terjadi vasokonstriksi oleh katekolamin sehingga perfusi semakin memburuk. Akan tetapi, bila kehilangan volume darah lebih dari 30% mulai terjadi shock. Dan bila terjadi syok maka suplai O2 ke sel menurun sehingga menyebabkan gangguan perfusi jaringan yang akhirnya bis amenimbulkan gangguan metabolism seluler.


E. FASE-FASE SYOK HIPOVOLEMIK
Syok memiliki beberapa stadium sebelum kondisi menjadi dekompensasi atauirreversible sebagaimana dilukiskan dalam gambar berikut:
1. Stadium 1 Anticipation Stage, Gangguan sudah ada tetapi bersifat lokal. Parameter-paramater masih dalam batasnormal. Biasanya masih cukup waktu untuk mendiagnosis dan mengatasi kondisi dasar

2. Stadium 2. Pre-Shock Slide Gangguan sudah bersifat sistemik.Parameter mulai bergerak dan mendekati batas atas atau batas bawah kisarannormal.Sadium

3. Stadium 3 Compensated Shock
Compensated shock bisa berangkat dengan tekanan darah yang normal rendah,suatu kondisi yang disebut "normotensive, cryptic shock" Banyak klinisi gagalmengenali bagian dini dari stadium syok ini. Compensated shock memiliki artikhusus pada pasien DBD dan perlu dikenali dari tanda-tanda berikut: Capillaryrefill time > 2 detik; penyempitan tekanan nadi, takikardia, takipnea, akral dingin.


4. Stadium 4 Decompensated Shock, reversible di sini sudah terjadi hipotensi. Normotensi hanya bisa dipulihkan dengan cairanintravena dan/atau vasopresor




5. Stadium 5 Decompensated Irreversible Shock, Kerusakan mikrovaskular dan organ sekarang menjadi menetap dan tak bisadiatasi.


F. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN
1. Syok Hemoragik
Terapi utama pada shock hemoragik adalah transfusi darah. Yang paling tepat adalah memberikan darah segar, karena darh yang telah disimpan dalam 24 jam, sedikit sekali mengandung trombosit granulosit dan faktor V. Oleh karena itu pemberian darah tidak efektif, bila ditujukan untuk menmbah faktor-faltor tersebut. Begitu pula kenaikan Hb yang didapat sesudah transfusi tidak mengga,barkan kenaikan fungsi drah. Pada shcok hemoragik darah masif (whole blood) tidak dapat hanya menggunakn Hb sebagai parameter karena yang berkurang justru faktor pembekuan.
Untuk mengatasi shock yang demikian berikan cairan 1-2 liter bolus cairan kristaloid sampai dengan volume urin 50cc per jam dan dimonitor. Selain itu juga diberikan darah sebagi pengganti. Sebagai pegangan dapt dipakai petunjuk three four one, volume cairan yang diberikan sama dengan tiga kali volume darh yang keluar.
Pada shock hemoragik, pemberian darah segar yang mengandung koloid, elekrolit dan sel darah merah hanya sedikit memperbaiki defisit cairan interstisal sementara keuntungannya adalah meningkatnya oxygen caring capacity.
Walaupun tidak terdapat reaksi pada pemberian darah segar akn tetapi tranfusi dapat dilanjutkan untuk mencapai stabilnya tekanan darah. Pemberian darah ini tergantung pada hematokrit. Sering terdapat hematokrit meninggi. Dalam keadaan ini diberikan cairan kristaloid karena pindahnya cairan sel ke ruang interstisial.
Berhasilnya pengobatan tergantung pada akses pembuluh darh dan digunakannya kanul yang berukuran besar dari 17 pada femoralis atau vena subklavia. Meskipun demikian, pemberian darah filtrat melalui vena subklavia dapt menimbulkan eritmia krena kekurangan klasium.
Bila pada pemeriksaan darah terdapat kekurangan komponen-komponen darah mka terdapat indikasi untuk pemberian komponen darah antara lain :
a. Pemberian Packed red blood cel ( PRBCs)
Sel darah merah yang diberikan berupa komponen whole blood dipisah dari plasma dan disimpan dalam gliserol. Indikasi pemberian adalah perdarahan berat sampai denga shock. Pada umumnya diberikan bila darh keluar dari 750cc.
Komplikasi pemberian PRBCs adalah terjadinya reaksi hemolitik karena ketidakcocokan antigen antybodi, misalnya sistem ABO. Beberapa cc saja dapat menimbulkan shock, kegagalan ginjal, dan DIC, sementara yang dapat diliaht adalah menggigil rasa terbakar, sakit kepala, dan dada, muka terasa terbakar. Bila terjadi reaksi antigen antibody ini mak transfusi harus dihentikan, cek darah kembali, monitor produksi urin, tekann darah dan lakukan pemeriksaan PT, PTT, Fibrinogen, trombosit, fibrin produk degadrasi, dan hemoglobinea dan kebanyakan bilirubin sesudah 5-7 hari. Kegagaln ginjal terjadi karena shock dan vasokonstriksi yang disebabkan oleh reaksi aglutinasi dan pertimbangkan pemberian heparin. Disamping itu mungkin pula terjadi ekstra vaskuler yang ditandai secara klinis dengan keadaan pasien menggigil, demam, dan meningginya bilirunin dalam darah.
b. Transfusi masif
Salah satu bentuk transfusi adalah pemberian darah dalm jumlah masif. Darah dingain dapat menyebabkan hipotermia.
c. Albumin dan plasma protein
Albumin dan plasma protein diberikan pada hipoalbumin. Pemberian 5% albumin. Atas dasar kekurangan berbagai faktor didalam darah maka beberapa teknik dapat pula dikembangkan untuk mendapatkan komponen-komponen darah tertentu, antara lain albumin.
d. Teknik hemaferesis
Pemisahan komponen darah didasarkan atas perbedaan berta jenis masing-masing komponen darah. Pemisahan dapat dilakukan dengan centrifugasi dan disamping itu dapat pula dilakukan dengan filtrasi metode yang lebih banyak dipakai di eropa daripada di Amerika. Ada beberapa cara yang dapat digunakan :
1) Hemaferesis manual
Sebanyak 450 cc darah yang terdapat dalam labu darah diputar secara manual dengan centrifuge. Cara ini selain tidak praktis juga mengundang bahaya hemolisis.
2) Hemaferesis otomatik
Sebanyak 500cc darah dan steril diberikan anti koagulan ACD denagn 1:8 kemudian dialirkan ke dalam sentrifuge dan kemudian dilanjutkan ke dalm tempat dimana dapt dilihat beberapa lapisan darah yamg mempunyai berat jenis yang berbeda. Selain itu digunakan pula cara continuos flow hamaferesis buatan baxter yang bertujuan untuk memisahkan komponen-komponen plasma. Pemisahan IGG yang disebut dengan plasma feresis adalah pemisahan IGG dari plasma darah yang dapat dilakukan denagn mesin buatan imre, Seattle, WA dan Lund, Sweeden.

e. Transfusi trombosit
Transfusi trombosit dapat diberikan bila transfusi kurang dari 50.000/ menit untuk mencegah perdarahan dimana perdarahan masif akan terjadi bila perdarahan dibawah 20.000.
f. Transfusi granulositkan bila jumlah granulosit kurang yang di dapat sebagai akibat sepsis, neonatus pansitopenik dan febril netropenik.
Granulosit dapat di pertimbang
g. Pemberian plasma
Plasma di berikan pada pasien defisiensi factor koagulasi , hemolitiarank uremik sindrom , trombotik trombositopenik purpura dan defesiensi antitrombin III. Tranfusi dengan plasma dapat memebearikan factor pembekuan untuk factor VII untuk hemofili dan factor II , VII,X, VIII inhibitor. Efek samping yang di timbulkannya adalah menggigil, sakit kepala, muntah, thrombosis, dan DIC.
2. Syok hipovolemik karena kehilangan cairan tubuh
Terapi yang harus diberikan adalah resusitasi (penggantian) cairan. Jenis cairan kristaloid dan komposisinya yang diberikan untuk mengatasi syok hipovolemik dan komplikasi yang meungkin terjadi serta kontra indikasi dapt dilihat dibawah ini :
Volume konsentrasi (ml) Elektrolit Ditandai
Na K Cl
Cairan Isotonik 1000 0,9% 154 - 154 pH 6 ; dapat menyebabkan peninggian klorida dan asidosis
Ringer’s Laktat 1000 - 130 4 109 Lebih disukai untuk mengganti cairan ekstraseluler. Laktat tak dimetabolisasi pada syok dan penyakit liver karena itu dapat bertumpuk dalam darah.
Natrium Bikarbonat 50 7,5% 45 - - Harus diberikan secara perlahan tidak lebih dari 2,5 mEq/ menit.
Kalium Klorida 20 14,9% - 40 40 Tidak boleh diberikan pada gagal ginjal. Kecepatan pemberian tidak boleh > 2/3 mEq/ menit.
NAtrium Laktat 1000 1/6 molar 167 - - Laktat sangat sulit dimetabolisasi pada shock dan penyakit hati sebab dapat menimbulkan mengumpulnya laktat
Amonium Klorida 100 1% - - 18 Hanya digunakan pada keadaan metabolic alkalosis berat 2/3 mEq/ menit dan bila fungsi ginjal dan hati baik.


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Syok Hipovolemik merupakan suatu keadaan dimana volume cairan tidak adekuat di dalam pembuluh darah sedangkan jenis-jenisnya ada 2 yang pertama Syok Hemoragi, shock hemoragik adalah shock yang terjadi akibat perdarahan dalam jumlah yang besar. Dan yang kedua yaitu Syok Hipovolemik karena kehilangan cairan tubuh. Syok memiliki lima stadium yaitu: Stadium 1 Anticipation Stage, Stadium 2. Pre-Shock Slide, Stadium 3 Compensated Shock , Stadium 4 Decompensated Shock, Stadium 5 Decompensated Irreversible Shock, Terapi utama pada shock hemoragik adalah transfusi darah. Yang paling tepat adalah memberikan darah segar, sedangkan untuk terapi Syok hipovolemik karena kehilangan cairan tubuh terapi yang harus diberikan adalah resusitasi (penggantian) cairan.

B. SARAN
1. Bagi Perawat Pelaksana
Hendaknya dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien sesuai dengan teori yang ada dan dengan mempertimbangkan keadaan pasien. Hendaknya data yang terkait untuk pembuatan asuhan keperawatan sesuai dengan data yang ada atau data yang ada dari pasien.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Hendaknya pembuataan asuhan keperawatan dalam pendidikan sesuai dengan teori yang ada dan diharapkan pendidikan lebih awal sehingga mahasiswa dapat lebih menguasai dalam pembuatan asuhan keperawatan yang lebih sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Asuhan keperawatan pada pasien shock hypovolemik, dilihat 22 september 2011 darurat/tgd_141_slide_asuhan_keperawatan_pada_pasien_dengan_shock_hypovolemik.pdf

Rab, tabrani. 2000. Pengatasan Shock. Jakarta. EGC.

Syok, dilihat 22 september 2011

Syok Hipovolemik , dilihat 22 september 2011

Syok Hipovolemik. http://forum.blogbeken.com/kedokteran/syok-hipovolemik/
22 september 2011

Dehidrasi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Air memiliki manfaat penting bagi kesehatan seperti meningkatkan kemampuan kognitif, pencegahan batu dan infeksi kandung kemih hingga mencegah obesitas. Cegah gangguan kesehatan dengan minur air yang cukup. Air adalah komponen terbesar di dalam tubuh manusia. Kandungannya bervariasi sesuai usia, misalnya pada bayi terdapat 80 persen air, pada orang dewasa sebesar 60 persen dan pada usia lanjut atau di atas 65 tahun sebesar 50 persen.
Jumlah cairan tubuh manusia selalu di atur tepat, Cairan tubuh total : 36 liter Di dalam sel : 24 liter Di luar sel : 12 liter Air Interstisial : 8 liter
Kita semua pasti tahu dan sadar bahwa air merupakan urat nadi kehidupan manusia. Semua sistem dalam tubuh bergantung pada air. Bahkan lebih baik kekurangan makanan daripada kekurangan air. Kurangnya air dalam tubuh dapat menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi sendiri terjadi saat air dalam tubuh tidak mencukupi untuk melakukan fungsi kerja tubuh secara normal.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah asuhan keperawatan kritis.
b. Untuk memperdalam pengetahuan tentang konsep dasar dehidrasi.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui definisi dehidrasi
b. Untuk mengetahui jenis dehidrasi
c. Untuk mengetahui penyebab dehidrasi
d. Untuk mengetahui tanda dan gejala dehidrasi
e. Untuk mengetahui penatalaksanaan dehidrasi
f. Untuk mengetahui pencegahan dehidrasi


BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Dehidrasi adalah berkurangnya cairan tubuh total, dapat berupa hilangnya air lebih banyak dari natrium (dehidrasi hipertonik), atau hilangnya air dan natrium dalam jumlah yangsama (dehidrasi isotonik), atau hilangnya natrium yang lebih banyak daripada air (dehidrasi hipotonik)

B. Jenis
1. Dehidrasi hipertonik yaitu : hilangnya air lebih banyak dari natrium. Dehidrasi hipertonik ditandai dengan tingginya kadar natrium serum (lebih dari 145 mmol/liter) dan peningkatan osmolalitas efektif serum (lebih dari 285 mosmol/liter).
2. Dehidrasi isotonik yaitu : hilangnya air dan natrium dalam jumlah yang sama. Dehidrasi isotonik ditandai dengan normalnya kadar natrium serum (135-145 mmol/liter) dan osmolalitas efektif serum (270-285 mosmol/liter).
3. Dehidrasi hipotonik yaitu : hilangnya natrium yang lebih banyak dari pada air. Dehidrasi hipotonik ditandai dengan rendahnya kadar natrium serum (kurang dari 135 mmol/liter) dan osmolalitas efektif serum (kurang dari 270 mosmol/liter).

C. Penyebab
Dehidrasi terjadi bila pengeluaran cairan tubuh lebih besar dibandingkan asupannya. Kekurangan cairan biasanya menyebabkan kadar kalsium dalam darah meningkat. Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi:
1. Muntah sering menyebabkan dehidrasi karena sangat sulit untuk menggantikan cairan yang keluar dengan cara minum.
2. Diare merupakan keadaan yang paling sering menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah besar. Di seluruh dunia, 4 juta anak-anak meninggal setiap tahun karena dehidrasi akibat diare.
3. Penggunaan diuretik (obat yang menyebabkan ginjal mengeluarkan sejumlah besar air dan garam)
4. Tubuh kehilangan banyak cairan saat berkeringat. Kondisi lingkungan yang panas akan menyebabkan tubuh berusaha mengatur suhu tubuh dengan mengeluarkan keringat. Bila keadaan ini berlangsung lama sementara pemasukan cairan kurang maka tubuh dapat jatuh ke dalam kondisi dehidrasi.
5. Demam
6. Berkurangnya asupan cairan karena berbagai alasan. Penyakit tertentu seperti diabetes melitus (kencing manis), diabetes insipidus dan penyakit Addison dapat menyebabkan dehidrasi karena hilangnya cairan yang berlebihan.
7. Peningkatan kadar gula darah pada penderita diabetes atau kencing manis akan menyebabkan banyak gula dan air yang dikeluarkan melalui kencing sehingga penderita diabetes akan mengeluh sering kebelakang untuk kencing.
8. Penderita luka bakar dapat mengalami dehidrasi akibat keluarnya cairan berlebihan pada kulit yang rusak oleh luka bakar.
9. Orang yang mengalami kesulitan minum oleh karena suatu sebab rentan untuk jatuh ke kondisi dehidrasi.

D. Tanda gejala
1. Dehidrasi ringan (< 5 % BB) a. Muka memerah b. Rasa sangat haus c. Kulit kering dan pecah-pecah d. Volume urine berkurang dengan warna lebih gelap dari biasanya e. Pusing dan lemah f. Kram otot terutama pada kaki dan tangan g. Kelenjar air mata berkurang kelembabannya h. Sering mengantuk i. Mulut dan lidah kering dan air liur berkurang 2. Dehidrasi sedang (5 ± 10 % BB) a. Tekanan darah menurun b. Pingsan c. Kontraksi kuat pada otot lengan, kaki, perut, dan punggung d. Kejang e. Perut kembung f. Gagal jantung g. Ubun-ubun cekung h. Denyut nadi cepat dan lemah 3. Dehidrasi Berat (> 10 % BB)
a. Kesadaran berkurang
b. Tidak buang air kecil
c. Tangan dan kaki menjadi dingin dan lembab
d. Denyut nadi semakin cepat dan lemah hingga tidak teraba
e. Tekanan darah menurun drastis hingga tidak dapat diukur
f. Ujung kuku, mulut, dan lidah berwarna kebiruan

E. Penatalaksanaan
Terapi yang bisa dilakukan untuk mengatasi seseorang yang terkena dehidrasi adalah Lakukan pengukuran keseimbangan (balans) cairan yang masuk dan keluar secara berkala sesuai kebutuhan. Pada dehidrasi ringan, terapi cairan dapat diberikan secara oral sebanyak 1500-2500 ml/24jam (30 ml/kg berat badan/24 jam) untuk kebutuhan dasar, ditambah dengan penggantian defisit cairan kehilangan cairan yang masih berlangsung. Menghitung kebutuhan cairan sendiri, termasuk jumlah insensible water loss sangat perlu dilakukan setiap hari. Perhatikan tanda-tanda kelebihan cairan seperti ortopnea, sesak nafas, perubahan pola tidur, atau kofusion. Cairan yang diberikan secara oral tergantung jenis dehidrasi.
1. Dehidrasi hippertonik : cairan yang dianjurkan adalah air atau minuman dengan kandungan sodium rendah, jus buah seperti apel, jeruk, dan anggur.
2. Dehidrasi isotonik : cairan yang dianjurkan selain air dan suplemen yang mengandung sodium seperti jus tomat juga dapat diberikan isotonik yang ada di pasaran.
3. Daehidrasi hipotonik : cairan yang dianjurkan sama seperti diatas tetapi dibutuhkan kadar sodium yang lebih tinggi.

Pada dehidrasi sedang sampai berat dan pasien tidak dapat minum per oral, selain pemberian cairan enteral, dapat diberikan rehidrasi parenteral. Jika cairan tubuh yang hilang terutama adalah air, maka jumlah cairan rehidrasi yang dibutuhkan dapat dihitung dengan rumus :
{ xtypo_info } Definisi cairan ( liter = Cairan Badan Total [CBT] yang diinginkan – CBT saat ini
CBT yang diinginkan = kadar Na serum x CBT saat ini/140
CBT saat ini (pria) = 50% x berat badan (kg)
CBT saat ini (perempuan) = 45% x berat badan (kg) {xtypo_ info}
Jenis cairan kristaloid yang digunakan untuk rehidrasi tergantung dari jenis rehidrasinya. Pada dehidrasi isotonik dapat diberikan cairan NaCl 0,9% atau dekstrosa 5% dengan kecepatan 25-30% dari defisit cairan total perhari. Pada dehidrasi hipertonik digunakan cairan NaCl, 45%. Dehidrasi hipotonik ditatalaksanakan dengan mengatasi penyebab yang mendasari, penambahan diet natrium, dan bila perlu pemberian cairan hipertonik.
Ramuan herbal yang bisa digunakan adalah Ramuan air kelapa, bahan-bahan yang diperlukan yaitu ;
1. 400 ml air kelapa muda (lebih bagus kelapa ijo (hijau))
2. 400 ml air matang
3. 1 sdm gula batu
4. seperempat sendok teh garam
Cara membuatnya yaitu dengan mencampurkan seluruh bahan-bahan tersebut diatas. Dosis : minum sebanyak mungkin (baik untuk orang dewasa ataupun anak-anak)

F. Pencegahan
Dehidrasi dapat dicegah dengan melakukan beberapa upaya berikut :
a. Lingkungan
Dehidrasi yang disebabkan oleh faktor lingkungan sangat mungkin untuk dilakukan pencegahan. Jika memungkinkan, aturlah jadual kegiatan atau aktifitas fisik yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Jangan melakukan aktifitas berlebihan pada siang hari.
b. Olah raga
Orang yang berolah raga pada kondisi cuaca yang panas harus minum lebih banyak cairan.
c. Umur
Umur uda dan tua sama beresikonya untuk mengalami dehidrasi.
Dehidrasi bukan kondisi yang tidak dapat dicegah namun bila terjadi dan tertangani dengan baik maka kondisi yang tidak diinginkan bisa dihindari.
Dehidrasi kerap kali menyebabkan kulit jadi tipis dan lebih cepat kelihatan berkerut. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dehidrasi pada kulit, yaitu dengan minum banyak cairan, normalnya disarankan untuk mengkonsumsi paling sedikit 8 gelas cairan sehari, minum minuman berenergi dapat mendorong orang-orang aktif, lebih banyak minum cairan karena kandungan rasa dan sodium tinggi di dalamnya, hindari minuman berkafein dan yang mengandung alkohol, keduanya sama-sama dapat menyebabkan dehidrasi, hindari minuman yang mengandung carbonat karena pembakaran bisa menyebabkan penggelembungan atau perasaan penuh dan mencegah pemenuhan konsumsi cairan, mengenakan pakaian berwarna terang, yang menyerap dan berukuran pas, usahakan berada di tempat yang sejuk, terlindungi dari matahari dan lindungi kulit dengan sunblock kapan saja selebihnya, menyadari dan mempersiapkan adalah cara termudah untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Di hari yang panas, untuk orang yang sedang beraktivitas bisa mengalami dehidrasi hanya dalam waktu 15 menit.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyebab dehidrasi yang lebih sering terjadi karena disebabkan oleh hilangnya Natrium dan air dari daerah yang terdapat tekanan osmotik yang rendah dan penggeseran air ke dalam sel, apabila larutan NaCL isotonik banyak terbuang, volume ekstraseliuler dan Intraseluler kecil, darah menjadi pekat dan hampir tidak dapat mengalir.
Sel tubuh akan di genangi oleh cairan yang mengandung oksigen dan bahan makanan yang tidak mencukupi pada dehidrasi yang murni akibat kehilangan air, pengobatannya ialah minum air atau Infus glukosa 5 %, Intravena secukupnya, glukosa 5 % atau air leding biasa akan juga di serap dari rektrum. Pada dehidrasi yang primer sebagai akibat kehilangan Natrium, perlu di berikan air garam fisrologik secukupnya, kalau terjadi serebal yang berat, larutan NaCL hepertonik perlu di berikan

B. SARAN
1. Bagi Mahasiswa Keperawatan, diharapkan agar mempelajari konsep dasar dehidrasi sehingga mahasiswa dapat memahami tentang dehidrasi.
2. Bagi pembaca, diharapkan makalah ini akan menambah khasanah pengetahuan terkait konsep dasar dehidrasi.


Daftar Pustaka

Dehidrasi. 2010. Dilihat pada 22 september 2011
Erwin, preferat terapi cairan. 2009. Dilihat pada tanggal 22 september 2011
Fauzi, makalah dehidrasi. 2011. Dilihat pada tanggal 22 september 2011
Kekurangan Cairan Tubuh/Dehidrasi (Gejala, Diagnosis, Jenis/Macam, Pengobatan), 2010 dilihat pada tanggal 22 september 2011

Over Hidrasi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup dalam milieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang, dan menjalankan fungsinya.
Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara substansi-substansi yang ada di milieu interior.
Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 (dua) parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urin sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut ( Kuntarti c 2009 ).

B. Tujuan

1. Tujuan umum
a. Untuk memenuhi tugas Asuhan Keperawatan Krisis.
b. Untuk mengetahui konsep overhidrasi.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengertian overhidrasi.
b. Untuk mengetahui penyebab overhidrasi.
c. Untuk mengetahui tanda dan gejala overhidrasi.
d. Untuk mengetahui patofisiologi overhidrasi.
e. Untuk mengetahui Diagnosa overhidrasi.
f. Untuk mengetahui Pemeriksaan Penunjang overhidrasi.
g. Untuk mengetahui Penatalaksanaan overhidrasi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP DASAR OVER HIDRASI
1. Pengertian
Overhidrasi adalah kelebihan cairan dalam tubuh ( medicastore 2010 ).
Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami kelebihan cairan intraseluler atau interstisial. (Carpenito 2000 dalam Mudirasa).

2. Penyebab
Overhidrasi terjadi jika asupan cairan lebih besar daripada pengeluaran cairan. Kelebihan cairan dalam tubuh menyebabkan konsentrasi natrium dalam aliran darah menjadi sangat kecil.
Minum air dalam jumlah yang sangat banyak biasanya tidak menyebabkan overhidrasi jika kelenjar hipofisa, ginjal dan jantung berfungsi secara normal.
Overhidrasi lebih sering terjadi pada orang-orang yang ginjalnya tidak membuang cairan secara normal, misalnya pada penderita penyakit jantung, ginjal atau hati. Orang-orang tersebut harus membatasi jumlah air yang mereka minum dan jumlah garam yang mereka makan.
Overhidrasi ini dapat terjadi jika terdapat :
a. Stimulus kronis pada ginjal untuk menahan natrium dan air.
b. Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air.
c. Kelebihan pemberian cairan intra vena (IV).
d. Perpindahan cairan interstisial ke plasma.

3. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala klinik yang mungkin didapatkan pada klien dengan overhidrasi antara lain :
a. sesak nafas
b. kekacauan mental
c. kejang
d. koma.
Mekanisme kompensasi tubuh pada kondisi overhidrasi adalah berupa pelepasan Peptida Natriuretik Atrium (PNA), menimbulkan peningkatan filtrasi dan ekskresi natrium dan air oleh ginjal dan penurunan pelepasan aldosteron dan ADH. Abnormalitas pada homeostatisis elektrolit, keseimbangan asam-basa dan osmolalitas sering menyertai overhidrasi. Overhidrasi dapat menimbulkan gagal jantung dan edema pulmuner, khususnya pada pasien dengan disfungsi kardiovaskuler
4. Patofisiologi
Kelebihan volume cairan terjadi apabila tubuh menyimpan cairan dan elektrolit dalam kompartemen ekstraseluler dalam proporsi yang seimbang. Karena adanya retensi cairan isotonik, konsentrasi natrium dalam serum masih normal. Kelebihan cairan tubuh hampir selalu disebabkan oleh peningkatan jumlah natrium dalam serum. Kelebihan cairan terjadi akibat overload cairan / adanya gangguan mekanisme homeostatis pada proses regulasi keseimbangan cairan.
Kelebihan volume cairan mengacu pada perluasan isotonik dari CES yang disebabkan oleh retensi air dan natrium yang abnormal dalam proporsi yang kurang lebih sama dimana mereka secara normal berada dalam CES. Hal ini selalu terjadi sesudah ada peningkatan kandungan natrium tubuh total, yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan air tubuh total. (Brunner & Suddarth. 2002 dalam Mudirasa).

5. Diagnosa
Pada overhidrasi, kelebihan cairan ditemukan baik di dalam maupun di sekitar sel dan biasanya tidak menyebabkan timbulnya tanda-tanda pengumpulan cairan. Pada kelebihan volume darah, tubuh juga memiliki terlalu banyak natrium, sehingga tidak dapat memindahkan air kedalam cadangan di dalam sel.
Pada kelebihan volume darah (misalnya gagal jantung dan sirosis hati), cairan terkumpul di sekitar sel-sel di dada, perut dan tungkai bawah. Membedakan overhidrasi dan volume darah yang berlebihan seringkali sulit dilakukan, karena overhidrasi bisa terjadi sendiri atau bersamaan dengan kelebihan volume darah.
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Fisik
Oedema, peningkatan berat badan, peningkatan TD (penurunan TD saat jantung gagal) nadi kuat, asites, krekles (rales). Ronkhi, mengi, distensi vena leher, kulit lembab, takikardia, irama gallop.
b. Protein rendah
c. Anemia
d. Retensi air yang berlebihan
e. Peningkatan natrium dalam urin
7. Penatalaksanaan
Tujuan terapi adalah mengatasi masalah pencetus dan mengembalikan CES pada normal. Tindakan dapat berupa hal berikut :
a. Pembatasan natrium dan air.
b. Diuretik.
c. Dialisi atau hemofiltrasi arteriovena kontinue : pada gagal ginjal atau kelebihan beban cairan yang mengancam hidup.


BAB III
KESIMPULAN
1. Overhidrasi adalah kelebihan cairan dalam tubuh. Penyebabnya jika asupan cairan lebih besar daripada pengeluaran cairan. Ini terjadi jika ada kerusakan di hipofise, jantung dan ginjal.
2. Tanda dan gejala: sesak nafas, kekacauan mental, kejang dan koma.
3. Kelebihan volume cairan mengacu pada perluasan isotonik dari CES yang disebabkan oleh retensi air dan natrium yang abnormal dalam proporsi yang kurang lebih sama dimana mereka secara normal berada dalam CES. Hal ini selalu terjadi sesudah ada peningkatan kandungan natrium tubuh total, yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan air tubuh total.
4. Penatalaksanaan : Diuretik, Dialisi atau hemofiltrasi arteriovena kontinue : pada gagal ginjal atau kelebihan beban cairan yang mengancam hidup.


DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Aziz Alimul, 2006, Kebutuhan Dasar Manusia, Salemba Medika, Jakarta.
NANDA, 2008, Nursing Diagnoses : Definition and Classification, Philadelphia.
Yasir, 2009, keseimbangan cairan tubuh dan asam basa, dilihat tanggal 22 September 2011, .
Gangguan Keseimbangan Cairan, c 2010, dilihat tanggal 22 september 2011,.
Overhidrasi, 2011, overhidrasi kelebihan cairan, dilihat tanggal 25 September 2011, .
Mudirasa, I ketut, 2010, Askep Kelebihan Volume ciran, dilihat tanggal 25 September 2011, .

Ginjal Ku

A. DEFINISI GINJAL
Ginjal adalah organ yang mempunyai pembuluh darah yang sangat banyak (sangat vaskuler) tugasnya memang pada dasarnya adalah “menyaring/membersihkan” darah. Aliran darah ke ginjal adalah 1,2 liter/menit atau 1.700 liter/hari, darah tersebut disaring menjadi cairan filtrat sebanyak 120 ml/menit (170 liter/hari) ke Tubulus. Cairan filtrat ini diproses dalam Tubulus sehingga akhirnya keluar dari ke-2 ginjal menjadi urin sebanyak 1-2 liter/hari.

B. FUNGSI GINJAL
Ginjal berperan dalam dalam homeostasis secara lebih ekstensif dibandingkan dengan organ-organ lain. Ginjal mengatur komposisi elektrolit, volume, dan pH lingkungan internal dan mengeliminasi semua zat sisa metabolism tubuh, kecuali CO2 yang dikeluarkan oleh system pernapasan. Ginjal melaksanakan fungsi pengaturan ini dengan mengeliminasi zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh melalui urine, misalnya zat sisa metabolism dan kelebihan garam atau air, sementara menahan zat yang bermanfaat bagi tubuh. Organ ini juga mampu mempertahankan kontituen-konstituen plasma yang konsentrasinya dijaga dalam rentang sempit agar tidak mengganggu kehidupan, walaupun pemasukan dan pengeluaran konstituen-konstituen tersebut dari jalan yang bervariasi.
Fungsi Ginjal antaran lain:
1. Fungsi Regulasi
a. Ginjal mengatur jumlah dan konsentrasi sebagian besar elektrolit CES, termasuk elektrolit-elektrolit yang penting untuk mengatur eksitabilitas neuromuskulus.
b. Ginjal berperan mempertahankan pH yang sesuai dengan mengeliminasi kelebihan H+ (asam) atau HCO3- (basa) dalam urin.
c. Ginjal membantu mempertahankan volume plasma yang sesuai, yang penting untuk pengaturan jangka panjang tekanan darah arteri, dengan mengontrol keseimbangan garam dalam tubuh. Volume CES, termasuk beban garam total dalam CES, karena Na+ dan anion penyerta Cl- merupakan penentu lebih dari 90% aktivitas osmotic (menahan air) CES.
d. Ginjal mempertahankan keseimbangan air dalam dalam tubuh, yang penting untuk mempertahankan tekanan osmolaritas (konsentrasi zat terlarut) CES yang sesuai. Peran ini penting untuk mempertahankan stabilitas volume sel dengan mencegah sel membengkak atau menciut akibat masuk atau keluarnya air secara osmosis, berturut-turut.
2. Fungsi Ekskresi
a. Ginjal mengekskresikan produk-produk akhir metabolism dalam urin. Zat-zat sisa ini bersifat toksik bagi tubuh apabila tertimbun.
b. Ginjal mengekskresikan juga banyak senyawa asing yang masuk ke dalam tubuh.
3. Fungsi Hormonal
a. Ginjal mensekresikan eritropoitin, hormone yang merangsang produksi sel darah merah oleh sum-sum tulang. Fungsi ini berperan dalam homeostasis dengan membantu mempertahankan kandungan O2 yang optimal di dalam darah. Lebih dari 98% O2 dalam darah terikat ke hemoglobin di dalam sel darah merah.
b. Ginjal juga mensekresikan rennin, hormone yang mengawali jalur rennin - angiotensin – aldosteron untuk mengontrol reabsorpsi Na+ oleh tubulus, yang penting dalam pemeliharaan jangka panjang volume plasma dan tekanan darah arteri. Ketika tekanan darah turun, renin yang dilepaskan sel-sel ginjal tertentu dan angiotensinogen yang dilepaskan di hati bertemu dan menyatu, bagaikan dua keping lego yang sejoli. Setelah penyatuan ini suatu enzim yang disebut ACE membentuk sebuah molekul yang disebut angiotensin 2. Molekul ini menyempitkan pembuluh darah dan memastikan pelepasan aldosteron di dalam ginjal. Hormon ini menyebabkan ginjal menyerap jauh lebih banyak cairan dari air seni. Rantai kerja ini menyesuaikan dengan tekanan darah, menaikkannya ke tingkat pas.

4. Fungsi Metabolisme
Ginjal membantu mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya. Vitamin D penting untuk penyerapan Ca++ dari saluran pencernaan. Kalsium sebaliknya memiliki banyak fungsi homeostatic.

C. PROSES PEMBENTUKAN URINE
1. Filtrasi Glomerular
Pembentukan kemih dimulai dengan filtrasi plasma pada glomerulus, seperti kapiler tubuh lainnya, kapiler glumerulus secara relatif bersifat impermiabel terhadap protein plasma yang besar dan cukup permabel terhadap air dan larutan yang lebih kecil seperti elektrolit, asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen. Aliran darah ginjal (RBF = Renal Blood Flow) adalah sekitar 25% dari curah jantung atau sekitar 1200 ml/menit. Sekitar seperlima dari plasma atau sekitar 125 ml/menit dialirkan melalui glomerulus ke kapsula bowman. Ini dikenal dengan laju filtrasi glomerulus (GFR = Glomerular Filtration Rate). Gerakan masuk ke kapsula bowman’s disebut filtrat. Tekanan filtrasi berasal dari perbedaan tekanan yang terdapat antara kapiler glomerulus dan kapsula bowman’s, tekanan hidrostatik darah dalam kapiler glomerulus mempermudah filtrasi dan kekuatan ini dilawan oleh tekanan hidrostatik filtrat dalam kapsula bowman’s serta tekanan osmotik koloid darah. Filtrasi glomerulus tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan-tekanan koloid diatas namun juga oleh permeabilitas dinding kapiler.

Filtrasi glomerolus terjadi dengan cara yang hamper cepat sama serperti merembasnya cairan dari setiap kapiler bertekanan tinggi didalam tubuh. Tekanan didalam kapiler menyebabkan filtrasi cairan ,melalui membrane kapiler ke dalam kapsula bowman. Sebaliknya, tekanan kosmotok koloid ke dalam darah dan tekanan didalam kapsula bowman menentang filtrasi tersebut.
Tekanan Glomerulus sekitar 60 mmHg, dan tekanan kapsula bowman sebesar 18 mmHg. Kira-kira seperlima plasma merembes kedalam kapsula paoman, konsentrasi proteinnya meningkat sekitar 20 persen ketika darah tersebutv mengalir dari ujung arteri ke ujung vena kapiler glomerolus. Jika tekanan kosmotik koloid normal dari darah yang memeasuki kapiler tersebut 28 mmHg, akan meningkat menjadi kira-kira 38 mmHg pada saat darah mencapai ujung vena kapiler tersebut, dan tekanan osmotic koloid sekitar rata-rata 32 mmHg.
Factor-faktor yang mempengaruhi laju filtrasi glomerulus:
a. Tekanan Arteri
Bila tekanan arteri meningkat, maka tekanan pada glomerulus meningkat sehingga GFR juga meningkat. Tetapi peningkatan filtrasi tak sebesardiperkirakan karena arterinya secara otomatis diatur oleh aurtoregulasi untuk menjaga glomerulus dari peningkatan sebanyak yang terjadi yang lain.
b. Efek konstrikasi arteriol aferen pada laju filtrasi glomerulus Konstresi aferen menurunkan kecepatan aliran darah kedalam darah kedalam glomerolus dan juga menurunkan tekanan glomerulus. Akibatnya adanya penurunan filtrasi glomerulus.
c. Efek Konstriksi Arterial Eferen
Konstriksi arterial eferen meningkatkan tahanan terhadap aliran keluar dari glomerulus. Ini tentu saja meningkatkan tekanan glomerulus dan biasanya meningkatkan laju filtrasi glomerulus. Jika penyempitan arteriol besar dan aliran darah sangat terhalang maka laju filtrasi glomerulus akan menurun.
d. Efek Aliran Darah Glomerulus Atas Laju Filtrasi Glomerulus
Bila arterior aferen dan eferen berkonstriksi, maka jumlah darah yang mengalir ke glomerulus tiap menitnya akan menurun. Kemudian cairan di filtrasi melalui glomerulus-glomerulus maka konsentrasi protein plasma dan tekanan kosmoid plasma didalam glomerulus akan meningkat. Sebaliknya hal ini kan melawan filtrasi. Sehingga bila aliran darah glomerulus turun secara bermakna dibawah yang normal, maka laju filtrasi glomerulus mungkin menjadi tertekan secara serius walaupun tekanan glomerulus tinggi.

2. Reabsorpsi Tubulus
Proses reabsorbsi adalah terjadinya penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, natrium, klorida, fosfat dan ion bikarbonat. Proses ini terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorbsi yang terjadi pada tubulus atas. Dalam tubulus ginjal, cairan filtrasi dipekatkan dan zat yang penting bagi tubuh direabsorbsi. Kegiatan ini banyak dipengaruhi oleh hormon-hormon dan zat-zat yang direarbsorbsi berubah sesuai dengan keperluan tubuh setiap saat.
a. Air diserap dalam jumlah yang banyak
b. Zat esensial yang mutlak diperlukan, misalnya glukosa, NaCl, dan garam-garam direarbsorbsi dengan sempurna ke dalam kapiler peritubular, kecuali kadarnya melebihi ambang ginjal, yaitu batas kadar tertinggi suatu zat dalam darah yang apabila dilampaui menyebabkan ekskresi zat tersebut masuk ke dalam urine
c. Zat yang sebagian diabsorbsi sel-sel tubulus bila diperlukan, misalnya kalium.
d. Zat-zat yang hanya diabsorbsi dalam jumlah kecil dari hasil metabolisme misalnya ureum, fosfat, asam urat.
e. Zat sama sekali tidak diabsorbsi bahkan tidak dapat disekresi oleh sel tubulus, misalnya kreatinin.
Jumlah total air yang diabsorbsi lebih kurang 120 ml / menit, 70-80 % diabsorbsi oleh tubulus proksimal dan disebut juga reabsorbsi air obligatori, sisanya 20-30 % diabsorbsi secara fakultativ dengan bantuan hormon vasoprevesin, yaitu ADH (AntiDiuretik Hormon) di tubulus distal. Sebagian kecil sisanya diabsorbsi pada duktus koligen, yaitu saluran tempat bermuaranya tubulus distal.

3. Sekresi
Sekresi tubular melibatkan transfor aktif molekul-molekul dari aliran darah melalui tubulus kedalam filtrat. Banyak substansi yang disekresi tidak terjadi secara alamiah dalam tubuh (misalnya penisilin). Substansi yang secara alamiah terjadi dalam tubuh termasuk asam urat dan kalium serta ion-ion hidrogen.
Mekanisme sekresi tubular adalah proses aktif yang memindahkan zat keluar dari darah dalam kapilar peritubular melewati sel-sel tubular menuju cairan tubular untuk dikeluarkan dalam urine.
a. Zat-zat seperti ion hidrogen, kalium, dan amonium, produk akhir metabolik kreatinin dan asam hipurat serta obat-obatan tertentu (penisilin) secara aktif di sekresi ke dalam tubulus.
b. Ion hidrogen dan amonium diganti dengan ion natrium dalam tubulus kontortus distal dan tubulus pengumpul. Sekresi tubular yang selektif terhadap ion hidrogen dan amonium membantu dalam pengaturan PH plasma dan keseimbangan asam basa cairan tubuh.
c. Sekresi tubular merupakan suatu mekanisme yang penting untuk mengeluarkan zat-zat kimia asing atau tidak diinginkan.

D. PROSES MIKSI
Pertambahan volume urine → tekanan intra vesicalis ↑ → keregangan dinding vesicalis (m.detrusor) → sinyal-sinyal miksi ke pusat saraf lebih tinggi (pusat kencing) → untuk diteruskan kembali ke saraf saraf spinal → timbul refleks spinal → melalui n. Pelvicus → timbul perasaan tegang pada vesica urinaria sehingga akibatnya menimbulkan permulaan perasaan ingin berkemih. Refleks miksi dapat mulai terjadi pd keadaan dimana volume urine kandung kencing sekitar 200-400 cc. Tetapi kadang-kadang, keinginan untuk miksi dapat terjadi walaupun urine dalam kandung kencing blm mencapai 200-400 cc. Misalnya : oleh karena pengaruh psihis ( kejiwaan ).

E. KOMPOSISI URINE
1. Komponen Organik
Yang menarik perhatian pada ekskresi komponen organik adalah senyawa yang mengandung nitrogen. Urea, yang disintesis dalam hati adalah bentuk ekskresi nitrogen yang berasal dari protein dan asam amino. Konsentrasinya mencerminkan metabolisme protein.; 70 g protein menyebabkan pembentukan kira-kira 30 g urea. Asam urat adalah produk akhir dari metabolisme purin.. kreatinin, yang dibentuk dari keatin melalui siklisasi spontan dan ireversibel, berasal dari metabolisme otot. Karena jumlah kreatinin yang dikeluarkan setiap hari setiap individu adalah konstan, berbanding langsung dengan massa otot. Kreatinin dapat digunakan sebagai ukuran kuantitatif untuk komponen-komponen urin lainnya. Jumlah asam amino yang dikeluarkan secara bebas sangat tergantung dari makanan dan kemampuan kerja hati. Derivat asama amino juga muncul dalam urin (misalnya hipurat). Asam amino dimodifikasi, yang terdapat pada protein-protein khusus misalnya hidroksiprolin dalam kolagen atau 3-metilhistidin di dalam aktin dan miosin, dapat berfungsi sebagai indikator dari pemecahan protein-protein ini.
Konjugat dengan asam belerang asam glukuronat, glisin dan senyawa-senyawa polar lainnya, yang terbentuk di dalam hati melalui biotransformasi adalah komponen lainnya dari urin. Metabolit dari banyak hormon (katekolamin, steroid, serotonin) muncul juga dalam urin dan memberi informasi mengenai produksi hormon. Suatu proteohormon, yaitu koriogonadotropin (hCG; M kira-kira 37 kDa) yang terbentuk pada awal kehamilan dan masuk ke dalam darah, terdapat dalam urin karena ukurannya yang kecil. Hal ini dipakai sebagai prinsip dasar suatu pemeriksaan kehamilan secara imunologik.
Warna kuning urin disebabkan oleh urokrom yaitu famili zat empedu yang terbentuk pada pemecahan hemoglobin. Bila dibiarkan dalam udara terbuka, urokrom dapat teroksidasi, sehingga urin dapat menjadi berwarna kuning tua.

2. Komponen anorganik
Di dalam urin terdapat kation Na+, K+, Ca2+, Mg2+, dan NH4+, demikian juga anion Cl-, SO42- dan HPO42-, selain ion –ion lainnya dalam jumlah kecil. Jumlah komponen anorganik ditentukan oleh komposisi bahan makanan.pada keadaan asidosis, ekskresi amoniak dapat sangat meningkat. Ekskresi dari banyak ion-ion berada dibawah kontrol hormon.


DAFTAR PUSTAKA

Sherwood, Lauralee, 2001, FISIOLOGI MANUSIA DARI SEL KE SISTEM, Jakarta : EGC
http://www.Indonesiaindonesia.com/f/12847-kelainan-kelenjar-adrenal/
http://www.irwanashari.com/559/mekanisme-pembentukan-urine-2.html

KEAJAIBAN HORMON

by Rio

______________________________________
KELENJAR ADRENAL
Hampir semua orang mengetahui bahwa ada dua ginjal dan bahwa keduanya sangat penting, tetapi kebanyakan orang tak mengetahui bahwa ada dua potong jaringan kecil yang beratnya masing-masing 5-6 gram di atas kedua ginjal yang juga amat penting.
Saat kita mengamati kelenjar-kelenjar ini, yang dikenal dengan nama kelenjar adrenal, masing-masing adalah sebuah laboratorium yang terpisah. Yang pertama adalah bagian luar kelenjar adrenal (korteks adarenal), yang menghasilkan tiga hormon; yang kedua adalah bagian dalam kelenjar adrenal (medulla adrenal), yang menghasilkan dua hormon. Hormon-hormon yang dihasilkan oleh kedua kelenjar ini sangat penting sehingga pelepasan terlalu banyak atau terlalu sedikit hormon-hormon itu akan menyebabkan kematian.22

SISTEM PERTAHANAN DIRI
Sebagian orang berutang nyawa pada suatu hormon ajaib bernama adrenalin: saat orang-orang ini dalam bahaya, cairan ini membuat mereka lebih kuat, lebih cekatan, lebih cepat, dan lebih siaga. Hormon ini bahkan menggandakan kemampuan fisik seolah-olah orang-orang itu telah meminum ramuan amat mujarab untuk memberi mereka kekuatan. Misalnya, seorang pilot menyadari kerusakan mesin di pesawatnya saat terbang. Setelah kerusakan mesin, yang mengancam akan menjatuhkan pesawatnya, si pilot berjiwa pahlawan ini mendaratkan pesawatnya dengan aman di bandara, menyelamatkan nyawa ratusan penumpang. Tetapi, ada suatu hal yang sangat penting yang biasanya dilupakan wartawan: yang menyelamatkan nyawa pilot dan para penumpang adalah cairan hebat tersebut di atas.

Adrenalin segera dilepaskan di dalam tubuh seorang pilot yang pesawatnya mengalami kerusakan. Cairan ini mengirimkan lebih banyak gula dan darah ke otak, membuat pilot itu lebih siaga. Tekanan darah dan detak jantungnya meningkat, membuatnya lebih waspada. Ini hanyalah beberapa perubahan yang dihasilkan adrenalin pada tubuh pilot.

Cairan ini mengirimkan tanda bahaya ke sel-sel otak si pilot, menyebabkan lebih banyak darah dan gula dikirimkan ke otak dan membuatnya lebih siaga. Pada saat yang sama, cairan ini meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, sehingga ia mampu bergerak lebih cepat dan lebih siaga. Daya tampung sistem pernapasannya naik sehingga ia mampu menggunakan lebih banyak oksigen (dan lebih banyak darah yang dapat mengalir ke sel-sel otak dan ototnya). Otot dan anggota badannya menjadi lebih sangat terpusat dan peningkatan kadar gula darahnya memberinya tenaga tambahan yang dibutuhkannya.
Adrenalin (epinefrin) dihasilkan dan disimpan dalam medulla adrenal - bagian dalam kelenjar adrenal. Setiap orang memiliki hormon ini di dalam dirinya sepanjang hidupnya; Anda memilikinya di dalam diri Anda saat ini. Jika dibutuhkan, kelenjar adrenal akan menghasilkannya sehingga Anda dapat menjadi lebih kuat, lebih cepat, dan jauh lebih siaga. Jika dalam bahaya, Anda akan diberikan kekuatan sekitar dua kali lipat biasanya sehingga dapat melawan sumber bahaya (atau melarikan diri darinya) untuk menyelamatkan hidup Anda.
Meskipun merupakan salah satu hormon penting, anehnya kadar adrenalin di dalam aliran darah sangat kecil daripada kerja yang dilakukannya. Telah dihitung bahwa, misalnya, jika jumlah darah dalam tubuh kita setara dengan sebuah danau bergaris tengah 100 meter dan kedalaman dua meter, adrenalin di dalam darah kita akan sama dengan sesendok teh cairan yang dituangkan ke dalam danau.23

Di dalam kelenjar adrenal, ada dua laboratorium terpisah yang menghasilkan hormon-hormon yang amat penting. Yang pertama korteks adrenal; yang lainnya medula adrenal. Hormon-hormon yang dihasilkan di kedua laboratorium ini penting bagi kehidupan manusia.

Pengaruh kuat sedikit saja cairan ini di dalam tubuh manusia adalah hasil rancangan yang menakjubkan. Saat memandang sistem fungsi hormon adrenalin, kita dapat memahami lebih nyata kesempurnaan ciptaan Allah.
Kebutuhan fisik orang biasa tentunya tak akan sama dengan orang yang sedang dalam bahaya. Bayangkan kebutuhan orang yang menghadapi sebuah keadaan berbahaya: ia harus cepat, ototnya harus bekerja lebih cepat, tekanan darahnya harus meningkat, dan jantungnya harus berpacu lebih cepat. Maka, ia akan mampu berlari lebih cepat, melarikan diri lebih cepat, atau berkelahi lebih kuat melawan bahaya. Bagaimanakah ini terjadi?
Saat ada bahaya, tombol peringatan di dalam tubuh ditekan, dan otak mengirimkan perintah secepat kilat ke kelenjar adrenal. Sel-sel di bagian dalam kelenjar adrenal lalu beralih ke keadaan siaga dan melepaskan hormon adrenalin untuk menghadapi keadaan darurat. Molekul-molekul adrenalin bercampur dengan darah dan menyebar ke seluruh bagian tubuh.
Molekul-molekul adrenalin memiliki fungsi khusus dalam pembuluh vena dan arteri yang memastikan bahwa organ-organ penting menerima lebih banyak aliran darah di saat bahaya, dan karena itu, molekul-molekul ini melebarkan pembuluh darah menuju jantung, otak, dan otot. Sel-sel yang mengelilingi pembuluh mematuhi adrenalin dan mengalirkan lebih banyak darah yang dibutuhkan jantung. Dengan cara ini, darah tambahan yang dibutuhkan oleh otak, otot, dan jantung dapat dipasok.24

Korteks adrenal berperan penting mengurangi ketegangan (stres) pada tubuh. Saat tubuh mengalami ketegangan yang parah, hipotalamus mengirimkan perintah ke kelenjar pituitari agar melepaskan ACTH (hormon adrenokortikotropis). Di sisi lain, ACTH merangsang korteks adrenal, mendorong pembuatan kortikosteroid. Kortikosteroid ini memastikan produksi glukosa dari molekul-molekul seperti protein, yang tak mengandung karbohidrat. Akibatnya, tubuh menerima tenaga tambahan dan tekanan pun berkurang.

Sambil melebarkan pembuluh darah ke jantung, otak, dan otot, adrenalin menyempitkan pembuluh yang mengalir ke hati dan kulit untuk memastikan adanya bantuan tambahan yang dibutuhkan tubuh. Ada satu alasan lagi bagi penurunan jumlah darah yang dipompakan ke kulit: dalam hal kemungkinan luka, jumlah darah yang hilang dapat dikurangi. Karena itu, penyebab pucatnya kulit jika kegemparan yang berlebihan adalah karena jumlah darah yang dipompa ke kulit lebih sedikit.25
Kesalahan tak pernah terjadi yang melebarkan pembuluh ke jantung (atau otak) yang menyempitkan pembuluh ke hati (atau kulit); molekul adrenalin mengetahui apa yang harus dilakukan. Hormon kecil renik ini mengatur garis tengah ratusan pembuluh darah di dalam tubuh Anda ke mana darah harus diarahkan.

Dalam keadaan bahaya, tubuh disiagakan karena adanya hubungan antara otak dan kelenjar adrenal.
Bagi setiap organ tubuh, kerja adrenalin berbeda; ketika menuju pembuluh darah, molekul adrenalin menyebabkan pembuluh melebar; ketika menuju jantung, molekul mempercepat penegangan sel-sel jantung. Ini membuat jantung berdetak lebih cepat dan menyalurkan tenaga tambahan yang dibutuhkan otot.
Ketika molekul adrenalin mencapai sel-sel otot, otot dapat menegang jauh lebih kuat. Molekul adrenalin yang masuk ke hati memerintahkan sel-sel yang ada di sana agar mencampur gula dengan darah. Ini menyebabkan jumlah gula darah meningkat dan mengalirkan bahan bakar tambahan yang dibutuhkan otot.
Kegiatan hormon adrenalin di dalam tubuh ini membutuhkan kecerdasan, pengetahuan, dan keahlian tinggi. Molekul kecil ini mengetahui apa yang harus dilakukan dan kapan; ketika tubuh tak memerlukannya, tanda bahaya tak pernah dibunyikan. Selain itu, molekul adrenalin sangat memahami ke sel mana harus menuju, dan perintah seperti apa harus diberikan. Lebih-lebih, hal ini menunjukkan bahwa molekul adrenalin sangat akrab dengan sel-sel, organ-organ beserta fungsi-fungsinya, dan tak pernah membuat kesalahan seperti kapan tubuh harus keluar dari keadaan darurat.
Jika membuat kesalahan seperti itu, tubuh akan rusak dan tak dapat diperbaiki. Tetapi, molekul kecil ini berfungsi dengan kesadaran tajam akan tanggung jawabnya. Bagaimanakah mungkin cairan tak bernyawa dan tak sadar, tanpa otak, mata, atau pengetahuan dan terbentuk dari gabungan atom-atom yang terlalu kecil untuk dilihat mata dapat bertindak dengan cara yang amat cerdas, teratur, dan terjadwal?

Sebagaimana terlihat pada gambar, saat melihat ular, si perempuan ketakutan dan sebuah tombol bahaya di dalam tubuhnya tertekan. Otaknya mengirimkan perintah secepat kilat ke kelenjar adrenal. Sel-sel di bagian dalam kelenjar adrenal disiagakan dan melepaskan adrenalin untuk keadaan darurat. Molekul adrenalin bercampur dengan darah dan disebarkan ke berbagai bagian tubuh. Tubuh kemudian dapat bereaksi dengan tepat terhadap bahaya. Misalnya, jantung si perempuan berdetak lebih cepat, dan gula darahnya meningkat, memberi otot-ototnya kekuatan lebih, dan ia mampu menghindari bahaya.

Ini jelas menunjukkan bahwa setiap molekul dalam tubuh kita diciptakan oleh Allah dan bahwa, sepanjang hidup kita, setiap kegiatan dikendalikan oleh kekuatan, kehendak, dan perintah Allah. Setelah memahami bagaimana tubuh bekerja secara rinci, tak seorang pun yang berakal dapat menyatakan bahwa makhluk hidup, sel, hormon, molekul atau atom, adalah hasil sebuah kebetulan yang tak bertujuan. Keperkasaan, kekuatan, serta pengetahuan cerdas dan hebat Allah, yang disaksikan oleh penciptaan, terwujud di setiap tempat dan setiap saat. Sebagaimana dikatakan Al Qur'an:
"Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu." (QS An-Nisa, 4: 126)
10 JUTA MANUSIA DAN 1 GRAM HORMON ALDOSTERON
Untuk bertahan hidup, tak terhitung keseimbangan harus setiap saat dipertahankan di dalam tubuh Anda. Sebagai orang yang menjalani hidup kesehariannya, manusia tak menyadari satu pun keseimbangan itu. Misalnya, detik ini, berbagai sistem mengatur tekanan darah Anda. Hormon "aldosteron" yang dihasilkan kelenjar adrenal bertugas mencegah penurunan tekanan darah Anda dan mengatur keseimbangan natrium di dalam tubuh Anda.

Jika aldosteron dari sepuluh juta orang disatukan, hanya satu gram hormon dihasilkan. Meskipun nyatanya hanya ada sedikit di dalam tubuh manusia, fungsi hormon ini sangat penting.
Di dalam tubuh Anda, ada sedikitnya satu per sepuluh juta gram aldosteron. Penelitian menunjukkan bahwa dari 1 ton kelenjar adrenal, hanya 10 mg aldosteron dilepaskan.26 Untuk mendapatkan 1 gram aldosteron, kita harus mengumpulkan aldosteron yang dilepaskan oleh kelenjar adrenal 10 juta orang. Tubuh manusia diciptakan dalam keseimbangan yang amat teliti sehingga kekurangan sedikit saja hormon ini dapat menyebabkan kematian.
Sebagaimana dijelaskan di atas, aldosteron berfungsi ganda: meningkatkan kadar natrium (Na+) di dalam darah, dan meningkatkan tekanan darah. Keduanya saling berhubungan erat dan aldosteron adalah larutan yang dirancang cermat untuk memenuhi kedua kebutuhan ini sekaligus. Jika jumlah natrium di dalam darah meningkat, kadar cairan di dalam darah juga meningkat. Ini disebabkan molekul-molekul air berkecenderungan bergerak ke arah di mana banyak natrium.
Di sini, kita melihat kehebatan rancangan aldosteron. Di satu sisi, hormon ini meningkatkan jumlah natrium; di sisi lain, menggunakan kemampuan natrium menyerap cairan. Saat kadar natrium di dalam darah menurun, aldosteron memperingatkan sel-sel di tabung-tabung kecil di ginjal. Sel-sel ini menangkap ion natrium di dalam air seni dan menyerapnya. Ini menyebabkan ion natrium memasuki sel-sel yang membentuk tabung-tabung itu, dan dari sana kembali dilepaskan ke dalam darah.
Lewat cara ini, jumlah natrium ditingkatkan, keseimbangan ion dipertahankan, jumlah cairan di dalam darah ditingkatkan, dan tekanan darah dikembalikan ke tingkat yang wajar. Ketika ion natrium dalam tabung-tabung kecil di ginjal dipulihkan, ion kalium (K+) dilepaskan dari darah ke air seni karena kadar natrium dan kalium di dalam darah harus di tingkat yang amat tertentu. Kadar mineral sangat penting untuk memastikan keseimbangan asam-basa cairan di dalam dan di luar sel, dan supaya sistem syaraf dapat berfungsi tepat.

Karena harus ada natrium dan kalium dengan kadar tertentu di dalam darah, sel-sel saluran ginjal menyerap kembali ion natrium (Na+) dan melepaskan ion kalium (K+) ke air seni. Aldosteron bertanggungjawab memastikan keseimbangan penting ini.

Aldosteron dihasilkan di bagian luar kelenjar adrenal. Sel-sel di bagian ini tak pernah melihat sel-sel ginjal (dan tak ada peluang kedua kelompok bertemu). Bagaimanakah sel-sel ini mengetahui cara menghasilkan hormon yang tepat untuk penyerapan kembali natrium dan pelepasan kalium? Bagaimanakah kelenjar adrenal mengetahui bagaimana menyeimbangkan elektrolit dan melepaskan kalium? Kebanyakan orang tak menyadari bahwa ion-ion ini ada dalam tubuh mereka.
Setiap sel di dalam tubuh manusia diciptakan untuk memenuhi fungsi khusus; sel diberi kemampuan khusus dan diletakkan di tempat menjalankan fungsinya. Pendeknya, seorang manusia diciptakan, dan setiap ciri tubuhnya menjadi bukti penciptaan.
"Yang kepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya). Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (QS Al-Furqan, 25: 2)
SEBUAH PERENCANAAN YANG TANPA CELA
Sistem berikutnya yang akan kita amati merupakan keajaiban perencanaan dan rancangan. Sambil menelaah cara kerja sistem ini, kita harus bertanya, "Dapatkah sistem ini terbentuk sebagai hasil ketaksengajaan yang tak sadar?"
Pertanyaan ini penting karena waktu, kebetulan, dan hasil-hasil hukum alam adalah alasan-alasan yang ditawarkan oleh dusta terburuk sepanjang zaman atas penolakannya terhadap keberadaan Allah; teori evolusi mendasarkan penjelasannya tentang perkembangan makhluk hidup di atas landasan ini.
Tipuan evolusi mengatakan bahwa manusia dan segala sesuatu menjadi ada karena kebetulan. Akan tetapi, sistem yang akan kita amati sendiri cukup untuk mengungkapkan keadaan sesungguhnya dongeng kebetulan dan menunjukkan upaya tipudaya evolusi.
Sistem ini dibangun sehingga akan bekerja saat tekanan darah menurun. Sistem memulai perannya saat tekanan darah turun di bawah nilai tertentu, bagaikan sebuah sensor tanda bahaya kebakaran yang dirancang untuk mengenali asap yang berasal dari kebakaran.
Saat tekanan darah menurun, alarm berbunyi karena tekanan darah yang rendah dapat berakibat sangat gawat. Saat alarm berbunyi, serangkaian tindakan harus dilakukan untuk menaikkannya. Tindakan ini mencakup hal-hal berikut:
1. Pembuluh darah harus menyempit (penyempitan ini akan menyebabkan naiknya tekanan darah, sebagaimana selang kebun yang ditekan di ujungnya).
2. Lebih banyak air diserap ginjal dan dicampur dengan darah untuk menaikkan kadar cairan darah.
3. Orang harus dipaksa meminum air sesegera mungkin.
Sebuah sistem tanpa cela telah ditempatkan di kedalaman tubuh manusia untuk menjalankan tindakan-tindakan ini. Ketika tekanan darah menurun (atau jumlah natrium di dalam darah menurun), sel-sel tertentu di ginjal menyadari masalah ini. Sel-sel jukstaglomerular melepaskan suatu zat amat penting yang disebut "renin".27

Tingkat tekanan darah sangat penting bagi manusia.
Sebuah keajaiban bahwa sel-sel ini dapat mengenali penurunan tekanan darah atau jumlah natrium yang ada dan kemudian melepaskan renin, mata pertama dalam rantai panjang yang menaikkan tekanan darah.
Di dalam plasma darah, ada sebuah protein yang biasanya berpengaruh netral saat beredar di dalam darah. Protein ini, yang disebut angiotensiogen, dihasilkan di dalam hati. Tahap pertama perencanaan yang luar biasa dimulai di sini. Angiotensiogen dan renin tidak memiliki fungsi sendiri, tetapi keduanya dirancang khusus untuk saling menyatu. Bagaimanakah mungkin keduanya dapat dibentuk khusus seperti balok-balok logo yang dirancang untuk benar-benar saling cocok?
Pikirkan hal berikut: sel-sel ginjal dan sel-sel hati letaknya berjauhan. Bagaimanakah mungkin satu kelompok sel ini menghasilkan satu bagian (renin), dan kelompok lain menghasilkan bagian lain (angiotensiogen) sedemikian rupa sehingga benar-benar cocok dengan yang pertama? Dapatkah ini terjadi sebagai akibat kebetulan yang tak sadar?
Tentunya tidak! Tidak mungkin proses seperti ini terjadi tak sengaja.
Renin mengubah susunan molekul angiotensiogen, menyebabkan pembentukan molekul baru, angiotensin I:
Renin + Angiotensiogen = Angiotensin I

Protein angiotensiogen yang dihasilkan di hati dan renin yang dihasilkan sel-sel ginjal bersatu demi sebuah tujuan bersama. Dua zat yang dihasilkan dua organ berbeda namun saling sesuai bak keping-keping lego, menunjukkan rancangan tanpa cela tubuh manusia.
Molekul baru ini juga tak berfungsi. Ditemukan di dalam paru-paru, sebuah enzim pengubah angiotensin (yaitu, ACE) berfungsi memecah molekul angiotensin I. Karena enzim inilah, angiotensin I berubah menjadi molekul lain, angiotensin II.
Angiotensin I + ACE = Angiotensin II
Dua molekul berbeda yang dihasilkan di dalam ginjal dan hati saling mempengaruhi dan menghasilkan molekul baru. Sel-sel paru-paru yang tidak berhubungan dengan sel-sel ginjal dan sel-sel hati menghasilkan enzim untuk menyatu dengan molekul baru ini. Selain itu, sel-sel paru-paru menghasilkan enzim ini jauh sebelum bergabung dengan molekul baru tersebut. Bagaimanakah sel-sel itu menghasilkan enzim yang tepat untuk suatu proses yang belum terbentuk agar berinteraksi dengan suatu zat yang belum dihasilkan? Bagaimanakah sel-sel ini mengetahui cara membuat enzim yang akan mengubah hormon yang tak berfungsi menjadi berfungsi?
Lagi-lagi, jelas bahwa setiap tahap merupakan suatu sistem yang dirancang. Angiotensin II yang dihasilkan sebagai akibat tahap-tahap ini adalah bukti rancangan dan perencanaan. Enzim ini memiliki dua fungsi penting yang akan mengarahkan sistem ke hasil akhir yang diinginkan: fungsi pertama adalah menyempitkan pembuluh-pembuluh darah (yang pertama dari ketiga hasil yang diharapkan sebagaimana kami sebutkan di awal bab ini). Angiotensin II merangsang otot di sekitar pembuluh darah dan mengaktifkan mekanisme yang mengerutkan otot. Dengan cara ini, otot mengerut untuk menyempitkan pembuluh darah dan menaikkan tekanannya.
Dapatkah ini terjadi secara kebetulan yang tak sadar? Lagi-lagi, tidak mungkin; angiotensin II dirancang khusus untuk menyempitkan pembuluh darah dan tak mungkin ada kebetulan di dalam rancangan tanpa cela ini.
Satu fungsi penting angiotensin II lainnya adalah mengajak hormon aldosteron yang menakjubkan untuk bekerja. Angiotensin II mencapai kelenjar adrenal dan memberikan perintah agar melepaskan aldosteron. Inilah satu lagi bukti adanya perencanaan: saat bercampur dengan darah, aldosteron menyebabkan ginjal menyerap cairan di dalam air seni.
Akibatnya tekanan darah naik. Inilah hasil kedua yang kta inginkan.
Zat yang dihasilkan dalam usaha bersama (dan menurut perencanaan ginjal, paru-paru, serta hati) menyebabkan pelepasan hormon yang menghasilkan peningkatan tekanan darah. Karena itu, penting sekali bahwa sel-sel ginjal, paru-paru, dan hati membentuk suatu kesatuan.
Sebelum segalanya terjadi, kesatuan ini harus menyelidiki dan mengkaji apakah yang harus dilakukan saat tekanan darah menurun untuk memutuskan jalan terbaik "menyempitkan pembuluh darah" dan "memastikan pelepasan aldosteron".
Lalu, organ-organ ini lagi-lagi harus menyelidiki dan mengkaji bentuk dan susunan kelenjar adrenal dan sel-sel otot pembuluh darah serta menentukan cara kerjanya. Selanjutnya, organ-organ harus menentukan molekul-molekul pembentuk Angiotensin II agar otot pembuluh darah mengerut dan kelenjar adrenal melepaskan aldosteron.

Ketika tekanan darah turun, renin yang dilepaskan sel-sel ginjal tertentu dan angiotensiogen yang dilepaskan di hati bertemu dan menyatu, bagaikan dua keping lego yang sejoli. Setelah penyatuan ini, suatu enzim yang disebut ACE membentuk sebuah molekul yang disebut angiotensin II. Molekul ini menyempitkan pembuluh darah dan memastikan pelepasan aldosteron di dalam ginjal. Hormon ini menyebabkan ginjal menyerap jauh lebih banyak cairan dari air seni. Rantai kerja ini menyesuaikan tekanan darah, menaikkannya ke tingkat yang pas.
Hal terakhir yang harus dilakukan adalah menentukan bagaimana molekul ini dihasilkan. Setiap organ bertanggungjawab untuk satu tahap pembuatannya. Menurut rencana produksi, ada sistem perakitan tiga tahap di mana setiap organ diberikan sebuah fungsi. Ginjal akan menghasilkan renin, hati menghasilkan angiotensiogen, dan paru-paru menghasilkan ACE. Setelah itu, sel-sel harus kembali ke perannya yang biasa.
Jika seseorang tak percaya bahwa sistem ini diciptakan oleh sebuah kekuatan maha besar sesuai dengan perencanaan khusus, orang itu harus menerima pandangan bahwa sel-sel tak sadar menerima semua ini dengan mekanisme neo-Darwinisme (mutasi dan seleksi alam). Pernyataan evolusionis tak dapat dipercaya dan tak masuk akal karena sistem (yang terdiri dari sel-sel ginjal, hati dan paru-paru), yang benar-benar rumit ini, pasti terjadi sekaligus pada waktu yang sama. Kemungkinan hal ini terjadi tak sengaja membutuhkan peristiwa-peristiwa yang sangat tidak mungkin. Pada saat yang sama (dan lagi-lagi tak sengaja), sel-sel harus dibentuk untuk mengukur tekanan di dalam ginjal, lalu aldosteron harus dibentuk di dalam kelenjar adrenal, sel-sel tabung ginjal harus bersusunan yang dirancang agar melayani aldosteron, dan sel-sel otot pembuluh darah harus bersusunan yang dapat dipengaruhi oleh angiotensin II. Tak terhitung unsur lain yang harus ada di tempatnya pada waktu yang sama agar sistem ini dapat bekerja, dan jika satu unsur saja tidak ada, maka seluruh sistem tidak akan bekerja.

Berkali-kali dalam sehari kita merasa haus sehingga meminum segelas air. Namun, secara umum kita tak menyadari apa yang terjadi di dalam tubuh kita saat itu. Sel-sel pada berbagai organ tubuh menentukan kebutuhan air tubuh kita dan saling bekerjasama dalam serangkaian kerja yang mendesak seseorang supaya minum air. Kita tak pernah memikirkan tentang dari mana datangnya desakan ini; kita hanya meminum air yang membantu tubuh kita.
Sistem seperti ini tidak mungkin terjadi sebagai hasil kerja sebuah kebetulan yang tak sadar. Sistem yang diciptakan oleh kecerdasan dan pengetahuan abadi Allah dan ditempatkan dalam tubuh manusia ini, telah bekerja sempurna di dalam tubuh setiap dari jutaan orang yang pernah hidup (kecuali dalam keadaan sakit). Manusia telah menyadari keberadaan sistem ini melalui penelitian yang dilakukan dengan bantuan perangkat teknologi canggih. Setiap bagian penelitian yang dilakukan membuktikan bahwa tak mungkin menjelaskan keberadaan sistem yang bekerja di dalam tubuh manusia dengan dongeng ketaksengajaan. Ini aarena manusia diciptakan, dan tak mungkin menyembunyikan kehebatan penciptaan dengan membuat suatu alur cerita khayal dan tak masuk akal.
Pada awal bab ini, kami menuliskan tiga tindakan yang perlu dilakukan untuk menaikkan tekanan darah. Yang ketiga adalah pentingnya memerintahkan orang tersebut meminum lebih banyak air. Untuk mendorong seseorang minum, orang itu harus merasa ingin minum. Kini, sel-sel tak sadar paru-paru, ginjal, dan hati di dalam tubuh harus mempengaruhi psikologi seseorang.
Rencana yang dibutuhkan hanyalah sebuah rincian sistem tanpa cela yang diciptakan Allah. Angiotensin II yang dihasilkan dari upaya bersama ginjal, paru-paru, dan hati bergerak ke satu bagian khusus otak dan mengaktifkannya. Bagian otak ini adalah "pusat haus" yang merangsang rasa haus. Tetapi, ada perintang yang disebut "penghalang darah-otak", yang melindungi otak, membuat amat sulit bagi angiotensin II untuk masuk dari darah ke jaringan otak. Sistem perlindungan ini ditemukan di berbagai bagian otak, dan salah satunya di "pusat haus". Berkat sifat khusus yang diciptakan di dalamnya, angiotensin II dapat merangsang pusat haus dan meningkatkan keinginan untuk minum.28
Dapatkah sistem ini terjadi karena kebetulan?
Setelah melihat berbagai bukti, tiada alasan bagi seseorang menjawab "Ya". Hati dan nurani dan kesadaran orang seperti ini telah dibutakan; ia telah diasuh agar tidak menerima kebenaran. Allah mengungkapkan dalam Al Qur'an apa yang harus dikatakan kepada orang seperti ini:
"Kawannya (yang mu'min) berkata kepadanya - sedang dia bercakap-cakap dengannya: 'Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) Yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi, aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku.'" (QS Al-Kahfi, 18: 37-38)
KORTISOL SI OBAT AJAIB
Ringkasnya, kita akan memeriksa sisi-sisi keajaiban lain - sebuah hormon bernama "kortisol". Tetapi, hormon ini memiliki beragam fungsi di dalam tubuh manusia yang harus kita catat sebelum mulai.
Kenyataan bahwa sebuah hormon dapat mengaktifkan sebuah sel itu sendiri adalah keajaiban karena, agar dapat mempengaruhi sel, hormon harus mengaktifkan sistem dalam sel. Ini terjadi dengan melekat ke reseptor di membran sel, atau langsung masuk ke dalam sel dan mengaktifkan sebuah mekanisme di situ. Namun, dengan kedua cara itu molekul hormon harus dirancang khusus untuk sel tempatnya bekerja. Jika ada sedikit ketakcocokan dalam susunan molekuk hormon dan reseptor, sel tak akan dapat dipengaruhi. Olh karena itu, hubungan antara hormon dan reseptor pada sel yang dipengaruhinya diibaratkan dengan gembok dan anak kunci.

Berkat rancangan tanpa cela ini, hormon kortisol dapat mempengaruhi sel-sel hati sebagaimana mempengaruhi pembuluh-pembuluh kapiler. Hubungan ini setara dengan hubungan gembok-dan-anak kunci.
Saat mengamati pengaruh kortisol, kita menemukan sebuah kenyataan penting. Allah telah menciptakan sistem-sistem pengamanan di dalam tubuh kita dan Dia telah memasang gembok di dalam sel-sel setiap sistem ini; hanya satu anak kunci yang dapat membuka gembok ini. Misalnya, anak kunci ini bisa jadi ada di sel-sel kapiler atau juga di dalam sel hati. Ini menyebabkan berbagai sel-sel yang berbeda harus bekerjasama demi mencapai tujuan bersama. Tidak lagi diragukan, inilah contoh kehebatan Allah dalam mencipta; ini juga bukti tipuan evolusi. Kenyataan bahwa sel-sel yang berbeda diprogram untuk bekerja bersama demi tujuan bersama, dan bahwa ada sistem pusat yang membuat program ini bekerja, menunjukkan sekali lagi ketakbenaran dongeng kebetulan yang diajukan teori evolusi.
Hormon kortisol bekerja dalam tubuh manusia bertempur di berbagai medan melawan rasa sakit, luka, infeksi, kepanasan, kedinginan, alergi, kekurangan oksigen, lapar, dan faktor-faktor yang meningkatkan suhu tubuh.
Sambil mengamati fungsi-fungai kortisol, kita tidak boleh lupa bahwa sel-sel tak sadar yang menghasilkan hormon ini tak mengetahui tempat kortisol akan digunakan. Sel-sel ini tak pernah sengaja menyadari medan tempat kortisol akan bertempur.
Kini, mari kita amati secara singkat fungsi-fungsi yang dilakukan oleh keajaiban bernama "kortisol" yang dihasilkan di dalam kelenjar adrenal, dan mari sekali lagi melihat bagaimana kejayaan Allah diwujudkan di dalam berbagai segi tubuh manusia. Pada setiap tahap, tanyai diri Anda sendiri jika sistem ini mungkin terjadi secara evolusi, dan jawabannya akan mengungkapkan rupa sebenarnya teori evolusi.

FUNGSI-FUNGSI KORTISOL
• Melakukan upaya-upaya di depan untuk menyembuhkan luka:
Adrenalin menyiapkan seseorang pada saat bahaya, sementara kortisol menyiapkan tubuh manusia terhadap apa yang mungkin terjadi setelah bahaya berlalu. Misalnya, kortisol menggerakkan asam amino agar bekerja jika ada luka.29 Pada saat luka terjadi, asam-asam amino ini adalah bahan dasar yang akan digunakan dalam pemulihan jaringan.
• Mengurangi rasa sakit saat luka terjadi:

Saat seseorang terluka, hormon kortisol beraksi tanpa ia sadari.
Inilah alasan mengapa sebagian orang tak merasakan sakit saat terluka (dan bahkan selama beberapa waktu setelahnya).30 Akibatnya, orang ini dapat mengumpulkan keberanian untuk membela diri, berlari, atau bertarung sekalipun terluka. Rasa sakit disampaikan oleh sel-sel syaraf. Tetapi, bagaimanakah sel-sel yang menghasilkan kortisol mengetahui mekanisme yang memperlambat, dan separuh menghentikan isyarat- isyarat listrik sel-sel syaraf?
• Dalam keadaan darurat, mengubah lemak dan protein menjadi gula
Agar sel-sel tubuh dan otak mendapat cukup makanan; semua sel membutuhkan pasokan gula, jika tidak, orang akan mati.
Saat seseorang lapar, jika tiada makanan dapat diubah menjadi gula, jumlah gula di dalam darah akan menurun. Di dalam keadaan seperti ini, kortisol bertindak dan tak akan membiarkan tubuh tidak mendapatkan gula. Kortisol memastikan pengubahan lemak dan protein cadangan menjadi gula, demi mempertahankan gula darah pada batas aman.31

Ada kilang-kilang yang sangat efisien di dalam sel-sel kecil yang mengubah lemak menjadi gula.
Lemak atau protein (atau keduanya) diubah menjadi gula. Fungsi ini benar-benar sangat rumit. Untuk mengubah satu zat menjadi zat lain berarti mengubah seluruh susunan molekul. Jika sebuah molekul lemak atau suatu protein diperbesar trilyunan kali dan diletakkan di meja, kebanyakan orang tidak akan mengetahui atom yang mana harus bertukar tempat dengan yang lain. Namun, di dalam sel-sel itu, ada kilang-kilang yang menjalankan perubahan ini melalui operasi yang sangat rumit. Hormon kortisol ini mengetahui tahap-tahap proses perubahan ini. Kortisol dirancang untuk membuka gembok yang menyebabkan perubahan ini berlangsung. Bagaimanakah sel-sel yang menghasilkan kortisol mengetahui bentuk anak kunci yang dibutuhkan untuk memulai pekerjaan yang akan mengubah lemak menjadi gula? Bagaimanakah sel-sel ini mengetahui kerja mana yang dibutuhkan untuk mengubah rumus molekul lemak (CH3-(CH2)n-COOH) menjadi molekul gula (CH2OH)?
• Dalam keadaan darurat, memberikan keutamaan bagi otak dan jantung untuk mendapatkan makanan:
Molekul kortisol bekerja saat darurat dan menyebabkan penurunan penggunaan gula oleh tubuh. Tetapi, ada keajaiban lainnya: akibat keadaan darurat tak dirasakan organ-organ penting seperti otak dan jantung. Sebagai perbandingan, seperti pada masa darurat, sumber-sumber daya ekonomi ditempatkan di bagian-bagian tertentu negara. Jadi, molekul kortisol memberikan perintah pengerahan dan mengutamakan pemenuhan gizi jantung dan otak, membatasi makanan bagi sel-sel lainnya.32 Bagaimanakah molekul kortisol mengetahui bahwa sebagian sel lebih penting daripada sebagian lainnya?
Mengatur pengerutan dan penyempitan pembuluh-pembuluh darah
Sebelumnya, kita melihat bahwa pembuluh darah tidak berbentuk pipa-pipa kaku, namun karena otot-otot di sekitarnya mengerut dan mengendur, garis tengah pembuluh dapat diubah jika dibutuhkan. Perintah agar menyempit mencapai pembuluh darah melalui berbagai hormon. Kortisol mengatur tanggapan pembuluh darah terhadap faktor-faktor yang menyempitkan dan melebarkannya, dan lalu menjalankan fungsi penting lainnya saat keadaan darurat.33
Bagaimanakah kortisol mengetahui sistem yang dijalani dalam pengerutan otot di sekitar pembuluh darah, dan bagaimanakah kortisol dapat mengatur tanggapan pembuluh-pembuluh ini terhadap faktor-faktor pengerutan-penyempitan yang ada di dalam sistem?
• Memeriksa pergerakan air:
Kortisol mencegah cairan memasuki sel saat tidak dibutuhkan. Jadi, kortisol membantu menjaga kemantapan volume darah. Bagaimanakah molekul kortisol mengetahui bahwa cairan berkecenderungan memasuki sel? Dan bagaimanakah kortisol mengetahui cara yang dibutuhkan untuk menjaga cairan tetap di luar? Lebih penting lagi, bagaimanakah kortisol menentukan kapan cairan harus ada di luar sel, tidak setiap saat, melainkan hanya di saat tertentu jika dibutuhkan?
• Pada saat bahaya, menghambat produksi hormon tertentu demi mencegah kenaikan suhu tubuh:
Sebuah pengaruh lain hormon kortisol tampak saat demam tinggi. Kenaikan suhu tubuh manusia adalah tanda bahwa tubuh sedang melawan penyakit. Kenaikan suhu ini mengharuskan seseorang beristirahat dan tidur. Kenaikan suhu ini bukanlah pengaruh sampingan penyakit; demam adalah persiapan pengamanan yang diatur khusus untuk memaksa orang yang sedang melawan penyakit agar beristirahat. Kenaikan suhu disebabkan oleh "pusat suhu" di dalam otak, yang diaktifkan oleh zat bernama IL-1 (interleukin).
Kortisol juga dirancang untuk menangani suhu tubuh yang terlalu tinggi. Saat seseorang dalam bahaya kematian karena tingginya suhu tubuh, kortisol menurunkan suhu dengan menghambat produksi IL-1 yang mengaktifkan pusat suhu.34
Bagaimanakah kortisol mengetahui bahwa IL-1 menaikkan suhu tubuh dan bahwa suhu tubuh yang tiinggi berbahaya bagi manusia? Bagaimanakah ia mengetahui di mana IL-1 dihasilkan dan bagaimana ia memutuskan untuk menghambat produksinya?

Kenaikan suhu tubuh disebabkan oleh pusat suhu pada otak. Suatu molekul rumit bernama IL-1 merangsang pusat ini. Jika suatu keadaan menjadi ancaman, kortisol menghentikan pelepasan zat ini.
• Mengatur produksi sejumlah protein yang sangat penting bagi kehidupan manusia:
Saat Anda dalam keadaan sulit, kortisol mempertimbangkan segala kebutuhan Anda satu persatu, secara terpisah. Ia meningkatkan produksi hemoglobin, sel-sel putih, dan trambosit dalam sumsum tulang sehingga meningkatkan kadar darahnya.35
Sebuah molekul yang terlalu kecil untuk dilihat mata memiliki sejumlah kekhususan, keterampilan dan tanggung jaab. Agar molekul ini dapat menjalankan fungsinya, ia harus dirancang khusus untuk tugas ini. Hormon ini merupakan satu contoh keselarasan dan kesempurnaan rancangan dalam ciptaan Allah.
". Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka, apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)." (QS Al-Anam, 6:

Jumat, 14 Oktober 2011

SPEKTROFOTOMETRI

Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar/energi adalah cahaya tampak (visible). Cahaya visible termasuk spektrum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380 sampai 750 nm. Sehingga semua sinar yang dapat dilihat oleh kita, entah itu putih, merah, biru, hijau, apapun.. selama ia dapat dilihat oleh mata, maka sinar tersebut termasuk ke dalam sinar tampak (visible).
Sumber sinar tampak yang umumnya dipakai pada spektro visible adalah lampu Tungsten. Tungsten yang dikenal juga dengan nama Wolfram merupakan unsur kimia dengan simbol W dan no atom 74. Tungsten mempunyai titik didih yang tertinggi (3422 ºC) dibanding logam lainnya. karena sifat inilah maka ia digunakan sebagai sumber lampu.
Sample yang dapat dianalisa dengan metode ini hanya sample yang memilii warna. Hal ini menjadi kelemahan tersendiri dari metode spektrofotometri visible.
Oleh karena itu, untuk sample yang tidak memiliki warna harus terlebih dulu dibuat berwarna dengan menggunakan reagent spesifik yang akan menghasilkan senyawa berwarna. Reagent yang digunakan harus betul-betul spesifik hanya bereaksi dengan analat yang akan dianalisa. Selain itu juga produk senyawa berwarna yang dihasilkan harus benar-benar stabil.
Salah satu contohnya adalah pada analisa kadar protein terlarut (soluble protein). Protein terlarut dalam larutan tidak memiliki warna. Oleh karena itu, larutan ini harus dibuat berwarna agar dapat dianalisa. Reagent yang biasa digunakan adalah reagent Folin.
Saat protein terlarut direaksikan dengan Folin dalam suasana sedikit basa, ikatan peptide pada protein akan membentuk senyawa kompleks yang berwarna biru yang dapat dideteksi pada panjang gelombang sekitar 578 nm. Semakin tinggi intensitas warna biru menandakan banyaknya senyawa kompleks yang terbentuk yang berarti semakin besar konsentrasi protein terlarut dalam sample.


2. Spektrofotometri UV (ultraviolet)

Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium.
Deuterium disebut juga heavy hidrogen. Dia merupakan isotop hidrogen yang stabil yang terdapat berlimpah di laut dan daratan. Inti atom deuterium mempunyai satu proton dan satu neutron, sementara hidrogen hanya memiliki satu proton dan tidak memiliki neutron. Nama deuterium diambil dari bahasa Yunani, deuteros, yang berarti ‘dua’, mengacu pada intinya yang memiliki dua pertikel.
Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna. Bening dan transparan.
Oleh karena itu, sample tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan penambahan reagent tertentu. Bahkan sample dapat langsung dianalisa meskipun tanpa preparasi. Namun perlu diingat, sample keruh tetap harus dibuat jernih dengan filtrasi atau centrifugasi. Prinsip dasar pada spektrofotometri adalah sample harus jernih dan larut sempurna. Tidak ada partikel koloid apalagi suspensi.
Sebagai contoh pada analisa protein terlarut (soluble protein). Jika menggunakan spektrofotometri visible, sample terlebih dulu dibuat berwarna dengan reagent Folin, maka bila menggunakan spektrofotometri UV, sample dapat langsung dianalisa.
Ikatan peptide pada protein terlarut akan menyerap sinar UV pada panjang gelombang sekitar 280 nm. Sehingga semakin banyak sinar yang diserap sample (Absorbansi tinggi), maka konsentrasi protein terlarut semakin besar.
Spektrofotometri UV memang lebih simple dan mudah dibanding spektrofotometri visible, terutama pada bagian preparasi sample. Namun harus hati-hati juga, karena banyak kemungkinan terjadi interferensi dari senyawa lain selain analat yang juga menyerap pada panjang gelombang UV. Hal ini berpotensi menimbulkan bias pada hasil analisa.


3. Spektrofotometri UV-Vis

Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan Visible. Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible. Meskipun untuk alat yang lebih canggih sudah menggunakan hanya satu sumber sinar sebagai sumber UV dan Vis, yaitu photodiode yang dilengkapi dengan monokromator.
Untuk sistem spektrofotometri, UV-Vis paling banyak tersedia dan paling populer digunakan. Kemudahan metode ini adalah dapat digunakan baik untuk sample berwarna juga untuk sample tak berwarna.


4. Spektrofotometri IR (Infra Red)

Dari namanya sudah bisa dimengerti bahwa spektrofotometri ini berdasar pada penyerapan panjang gelombang infra merah. Cahaya infra merah terbagi menjadi infra merah dekat, pertengahan, dan jauh. Infra merah pada spektrofotometri adalah infra merah jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000 μm.

Pada spektro IR meskipun bisa digunakan untuk analisa kuantitatif, namun biasanya lebih kepada analisa kualitatif. Umumnya spektro IR digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi pada suatu senyawa, terutama senyawa organik. Setiap serapan pada panjang gelombang tertentu menggambarkan adanya suatu gugus fungsi spesifik.

4. Spektrofotometri IR (Infra Red)

Dari namanya sudah bisa dimengerti bahwa spektrofotometri ini berdasar pada penyerapan panjang gelombang infra merah. Cahaya infra merah terbagi menjadi infra merah dekat, pertengahan, dan jauh. Infra merah pada spektrofotometri adalah infra merah jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000 μm.
Pada spektro IR meskipun bisa digunakan untuk analisa kuantitatif, namun biasanya lebih kepada analisa kualitatif. Umumnya spektro IR digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi pada suatu senyawa, terutama senyawa organik. Setiap serapan pada panjang gelombang tertentu menggambarkan adanya suatu gugus fungsi spesifik.
Hasil analisa biasanya berupa signal kromatogram hubungan intensitas IR terhadap panjang gelombang. Untuk identifikasi, signal sample akan dibandingkan dengan signal standard. Perlu juga diketahui bahwa sample untuk metode ini harus dalam bentuk murni. Karena bila tidak, gangguan dari gugus fungsi kontaminan akan mengganggu signal kurva yang diperoleh.
Terdapat juga satu jenis spektrofotometri IR lainnya yang berdasar pada penyerapan sinar IR pendek. Spektrofotometri ini di sebut Near Infrared Spectropgotometry (NIR). Aplikasi NIR banyak digunakan pada industri pakan dan pangan guna analisa bahan baku yang bersifat rutin dan cepat.
(Riyadi,Wahyu. 2009)


KEGUNAAN

Metode spektrofotometri adalah metode analisis berdasarkan pengukuran absorbsi cahaya oleh senyawa yang mengalami transisi elektron saat terkena sinar dengan panjang gelombang tertentu. Spektrofotometri merupakan salah satu cabang analisis instrumental yang mempelajari interaksi antara atom atau molekul dengan radiasi elektromagnetik. Salah satu penggunaan spektrofotometri adalah dapat menentukan kandungan kimiawi dari suatu bahan. Sumber cahaya ultraviolet dan cahaya tampak apabila dilewatkan pada sampel akan memberikan informasi nilai absorbansi dengan variasi panjang gelombang.
Alat yang digunakan untuk mengukur daya serapan dinamakan . Alat ini mengeluarkan cahaya pada jarak gelombang yang dipilih terlebih dahulu, lalu dipancarkan melalui sampel (selalu dilarutkan didalan satu pelarut dan diletakkan didalam kuvet), dan kecepatan cahaya yang ditransmisikan/diserap sampel tersebut diukur.
Terdapat dua jenis spektrofotometer, yaitu spektrofotometer beralur tunggal (single beam) dan spektrofotometer beralur ganda (double beam). Secara umum, sesebuah spektrofotometer terdiri dari komponen utama yaitu sumber cahaya, monokromator (termasuk beberapa penapis, celah (slits) dan cermin), kotak sampel, alat pengesan, dan sebuah meter atau perekam.

Sumber Cahaya
Bergantung kepada panjang cahaya, maka sesebuah spektrofotometer itu dapat mengukur daya serap pada kawasan ultraviolet, dimana lampu hidrogen atau deutrium tekanan tinggi digunakan; atau dikawasan tampak yang menggunakan lampu tungsten-halogen. Yang pertama itu mengeluarkan cahaya pada panjang gelombang 200 - 340 nm, manakala yang kedua itu pada panjang gelombang 340 - 800 nm. Alat yang mempunyai kedua-dua jenis lampu mempunyai kelenturan yang lebih baik dan boleh digunakan untuk kajian kebanyakan molekul yang mempunyai kepentingan biologi.

Monokromator
Kedua lampu diatas mengeluarkan cahayan pada keseluruhan panjang gelombang. Sehingga, sebuah spektrofotometer perlulah mempunyai sebuah sistem optik yang dapat memilih cahaya monokromatik (cahaya yang mempunyai panjang gelombang tertentu). Alat modern menggunakan prisma, atau selalu menggunakan diffraction grating untuk menghasilkan cahaya pada panjang gelombang tertentu. Perlu juga diingatkan disini bahwa cahaya yang keluar dari monokromator tidaklah terdiri dari hanya satu panjang gelombang, tetapi sebaliknya diperkaya dengan panjang gelombang tersebut. Ini bermakna, kebanyakan cahaya adalah dari panjang gelombang yang tunggal, tetapi yang pada panjang gelombang lebih pendek atau lebih panjang dari itu juga ada.
Sebelum cahaya monokromatik itu sampai kepada sampel, ia akan melalui satu siri celah (slits), kanta, penapis dan cermin. Sistem optik ini memekatkan cahaya, meningkatkan kelenturan spektra dan menumpukan ia kearah sampel. Cahaya yang melintasi dari monokromator ke sampel akan menemui satu pintu atau celah. Lebarnya celah ini menentukan kecepatan cahaya yang mengenai sampel dan kelenturan spektra cahaya tersebut. Dengan menyempitkan celah, kelenturan spektra akan meningkat, tetapi banyaknya cahaya yang mengenai sampel akan berkurang. Dalam hal ini kecekapan atau kepekaan alat pengesan akan menjadi faktor penting. Sehingga lebarnya celah perlu ditentukan untuk mendapatkan keseimbangan diantara kelenturan spektra dengan kepekaan pengesan.
Kotak Sampel

Cahaya monokromatik yang telah diproses itu kemudiannya diarahkan pada kotak sampel yang boleh menempatkan beberapa jenis pemegang sel. Sampel selalu dalam bentuk larutan. Sampel diisikan kedalam kuvet yang diperbuat dari kaca, kuarza, atau lain-lain bahan lutsinar. Kuvet kaca agak murah, tetapi disebabkan ia menyerap cahaya UV, ia hanya boleh digunakan untuk panjang gelombang melebihi 340 nm. Kuvet kuarza atau silika boleh digunakan disepanjang kawasan cahaya UV dan tampak (~200 - 800 nm). Kuvet sekarang ini banyak terdapat dipasaran dibuat dari polimetakrilat (280 - 800nm) dan polistiren (350 - 800nm).
Spektrofotometer yang kurang mahal terdiri dari alat beralur-tunggal (single-beam) yang membolehkan satu kuvet dimasukkan kedalam pemegang sel pada satu masa. Alat yang lebih canggih adalah beralur-dua (double-beam) yang boleh memuatkan dua kuvet, yang satu mengandungi sampek terlarut didalam suatu pelarut (kedudukan sampel) dan yang satu lagi mengandung pelarut tulin (kedudukan rujukan/control).

Pengesan
Kecepatan cahaya yang melintasi sampel kajian bergantung kepada banyaknya cahaya yang diserap oleh sampel tersebut. Kecepatan diukur oleh pengesan peka-cahaya, selalu merupakan sebuah tabung fotogandaan (photomultiplier tube, PMT). PMT mengesan jumlah tenaga cahaya yang kecil, menguatkannya melalui lata elektron (cascade of electrons) yang dipercepat oleh dinod (dynode), dan menukarkannya menjadi isyarat elektrik yang boleh dimasukkan kedalam sebuah meter atau perekam.

Meter dan Perakam
Alat dapat memberikan bacaan daya serapan dan /atau transmitans secara terus dalam bentuk analog atau digital. Alat ini sesuai untuk pengukuran pada panjang gelombang tunggal. Sekiranga pengimbasan (scanning) daya serapan lwn. panjang gelombang (A lwn. l) diperlukan, maka sebuah perakam (recorder) perlulah dipasang.
Pada masa ini kebanyakan spektrofotometer telah dilengkapi dengan komputer berserta perisian yang canggih bagi memudahkan pengaturan acara, parameter pengukuran, terutama untuk tujuan kajian kinetika.
(Mickeyamekan. 2009)


• Jenis-jenis Spektrofotometri
1. Spektrofotometri Infra Merah
Spektrofotometri Infra Red atau Infra Merah merupakan suatu metode yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang berada pada daerah panjang gelombang 0,75 – 1.000 µm atau pada Bilangan Gelombang 13.000 – 10 cm-1. Radiasi elektromagnetik dikemukakan pertama kali oleh James Clark Maxwell, yang menyatakan bahwa cahaya secara fisis merupakan gelombang elektromagnetik, artinya mempunyai vektor listrik dan vektor magnetik yang keduanya saling tegak lurus dengan arah rambatan.
Saat ini telah dikenal berbagai macam gelombang elektromagnetik dengan rentang panjang gelombang tertentu. Spektrum lektromagnetik merupakan kumpulan spektrum dari berbagai panjang gelombang. Berdasarkan pembagian daerah panjang gelombang sinar infra merah dibagi atas tiga daerah, yaitu:
• Daerah Infra Merah dekat.
• Daerah Infra Merah pertengahan.
• Daerah infra Merah jauh.
2. Spektrofotometri Raman
Interaksi Radiasi Elektro Magnetik (REM) dengan atom atau molekul yang berada dalam media yang transparan, maka sebagian dari radiasi tersebut akan dipercikkan oleh atom atau molekul tersebut. Percikan radiasi oleh atom atau molekul tersebut menuju ke segala arah dengan panjang gelombang dan intensitas yang dipengaruhi ukuran partikel molekul.
Apabila media transparan tersebut mengandung hanya partikel dengan ukuran dimensi atom (permukaan 0,01 A2) maka akan terjadi percikan radiasi dengan intensitas yang sangat lemah. Radiasi percikan tersebut tidak tampak oleh karena panjang gelombangnya adalah pada daerah ultraviolet. Radiasi hamburan tersebut dikenal dengan hamburan Rayleigh.
Demikian pula yang tejadi pada molekul-molekul dengan diameter yang besar atau teragregasi sebagai contoh molekul suspensi atau koloida. Percikan hamburan pada larutan suspensi dan sistem koloida panjang gelombangnya mendekati ukuran partikel molekul suspensi atau sistem koloid tersebut. Radiasi hamburan rersebut dikenal sebagai hamburan Tyndal atau hamburan mie yang melahirkan metode turbidimetri. Suatu penelitian yang sulit dengan hasil temuan yang sangat berarti, dalam ilmu fisika telah dilakukan oleh Chandra Venkrama Raman seorang ahli fisika berkebangsaan India, pada tahun 1928.
Menurut temuan Raman tampak gejala pada molekul dengan struktur tertentu apabila dikenakan radiasi infra merah dekat atau radiasi sinar tampak, akan memberikan sebagian kecil hamburan yang tidak sama dengan radiasi semula.
Hamburan yang berbeda dengan radiasi semula (sumber radiasi) tersebut berbeda dalam hal panjang gelombang, frekuensi serta intensitasnya dikenal sebagai hamburan Raman. Hamburan Raman tersebut memberikan garis Raman dengan intensitas tidak lebih dari 0,001% dari garis spektra sumber radiasinya.
3. Spektrofotometri Fluorescensi dan Fosforescensi
Suatu zat yang berinteraksi dengan radiasi, setelah mengabsorpsi radiasi tersebut, bisa mengemisikan radiasi dengan panjang gelombang yang umumnya lebih besar daripada panjang gelombang radiasi yang diserap. Fenomena tersebut disebut fotoluminensi yang mencakup dua jenis yaitu fluoresensi dan fosforesensi. Fluoresensi terjadi dalam selang waktu lebih pedek daripada fosforesensi. Selain itu kondisi yang menyebabkan fluoresensi dan fosforesensi pun berbeda. Fluoresensi biasa terjadi pada suhu sedang dalam larutan cair, sedangkan fosforesensi biasa terjadi pada suhu sangat rendah dan pada media pekat. Pada fluoresensi dan fosforesensi terjadi perubahan energi vibrasi molekul sebagai akibat darip enyerapan radiasi oleh molekul tersebut.
4. Spektrofotometri Resonansi Magnetik Inti
Sebelum era 1950 para ilmuwan khususnya yang berkecimpung dalam bidang kimia organik mersakan kurang puas terhadap apa yang telah dicapai dalam analisis instrumental. Kekurangpuasan mereka terutama dari segi analisis kuantitatif, penentuan struktur dan gugus hidrokarbon yang dirasa banyak memberikan informasi.
Pada waktu itu dirasa perlu menambah anggota teknik spektroskopi untuk tujuan lebih banyak memberikan informasi gugus hidrokarbon dalam molekul. Dua orang ilmuwan dari USA pada tahun 1951 yaitu Felix Bloch dan Edwardo M. Purcell (dari Harvard university) menemukan bahwa inti atom terorientasi terhadap medan magnet.
Selanjutnya menurut Bloch dan Purcell setiap proton di dalam molekul yang sifat kimianya berbeda akan memberikan garis-garis resonansi orientasi magnet yang diberikan berbeda.
Bertolak dari penemuan ini lahirlah metode baru sebagai anggota baru teknik soektroskopi yang diberi nama “Nuclear Magnetic Resonance (NMR)”.
Para ilmuwan di Indonesia mempopulerkan metode ini dengan nama spektrofotometer Resonansi Magnet Inti (RMI). Spektrofotometri RMI sangat penting artinya dalam analisis kualitatif, khususnya dalam penentuan struktur molekul zat organik. Spektrum RMI akan mampu menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan inti atom yang spesifik seperti:
• Gugus apa yang dihadapi?
• Di mana lokasinya gugus tersebut dalam molekul?
• Beberapa jumlah gugus tersebut dalam molekul?
• Siapa dan dimana gugus tetangganya?
• Bagaimana hubungan gugus tersebut dengan tetangganya?
Hasil spektoskopi RMI seringkali merupakan penegasan urutan gugus atau susunan atom dalam satu molekul yang menyeluruh. (Rahma. 2010)


DAFTAR PUSTAKA

Mickeyamekan. 2009. Spektrofotometer. (http://mickeyamekan.blogspot.com/2009/02/spektrofotometer.html) di akses pada 4 April 2009

Rahma. 2010. Jenis-Jensi Spektrofotometri. (http://rahma-alchemist.blogspot.com/2010/03/jenis-jenis-spektrofotometri.html) di akses pada 3 April 2011

Riyadi, Wahyu. 2009. Macam Spektrofotometri dan Perbedaannya. (http://wahyuriyadi.blogspot.com/2009/07/macam-spektrofotometri-dan-perbedaannya.html) di akses pada 4 April 2011